.

.
.

Rabu, 23 Februari 2011

SEJARAH PASUKAN HIZBULLAH DAN SABILILLAH INDONESIA

Tak dapat disangkal lagi bahwa eksistensi pemuda islam dalam kehidupan amat
penting, karena merekalah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan
sejarah umat manusia pada umumnya . semua ideology yang berorientasi pada
setrategi revolusi menganggap pemuda sebagai tenaga paling revolusioner karena
secara fisikologis manusia mencapai puncak hamasah (gelora semangat ) dan
quwwatul jasad (kekuatan fisik ) pada usia muda . Hal tersebut menumbuhkan
semangat pergerakan, perubahan, bukan stagnasi ataupun status quo. Dalam setiap
kurun waktu , kemarin, dan esok , pemuda senantiasa berdiri digaris terdepan .
Baik sebagai pembela kebenaran yang gigih ataupun sebagai pembela kebatilan yang
canggih .

Didalam al-quran peran pemuda di ungkapkan dalam kisah asahbul kahfi (18: 9-22)
, kisah pemuda ibrahim (21:60,69dan 2:25) , dan pemuda dibunuh oleh ashabul
uhdud (lihat tafsir ibnu katsir Q.S. Al-Buruuj) dan para Assabiqunal awwalun
pada umumnya berusia muda .pentingnya memanfaatkan usia muda digambarkan dalam
hadits Rasullah SAW, sebagai berikut:

"manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima : masa muda mu sebelum dating
masa tua mu ; masa sehat mu sebelum datang masa sakit mu ; masa kaya mu sebelum
dating masa miskin mu; masa hidup mu sebelum datang masa mati mu ; masa luang mu
sebelum datang masa sibuk mu ". (HR. Al-Baihaqi).

1.2. Tujuan

Dalam karya tulis ini permasalahan yang akan di bahas yaitu mengenai hal-hal
sebagai berikut :

1. Antara moderat dan eksterm

a.melebih-lebihkan dan mengurangi

2. kebangkitan islam di Negara-negara kawasan arab

a.umat dan Negara-negara kawasan arab dalam sejarah islam

b.umat dan Negara-negara kawasan eropa :sebuah studi komparasi

c. kesatuan eksternal menuju pluralisme internal di dunia barat

3. kebangkitan islam di Tunisia

a. fenomena islam yang kompleks

a. keislaman trsdisional

b. keislaman revivalistik

c. keislaman rasional

b. proses pembentukan

4. sejarah islam nusantara :islam meretas kebangkitan

a. fakta peranan pemuda islam

b. pemuda islam Indonesia zaman jepang

c. pemuda islam pasca proklamasi

5. islam dalam lintasan sejarah

a. Bab. I tarekat

b. Bab. II islam dalam dunia moderen

6. Peruabahan diri sendiri menjadi pribadi da'iyah yang baik

7. Sepuluh risalah pemuda

1.3. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan disajikan penulis dalam karya tulis ini adalah
sebagai berikut :

· Jelaskan maksud antara moderat dan eksterm ?

· Jelaskan kebangkitan islam di Negara-negara kawasan arab dan tunisaia ?

· Sebutkan sejarah islam di nusantara dan islam dalam lintasan sejarah ?

· Apa isi dari perubahan diri sendiri menjadi pribadi da'iyah yang baik ?

· Sebutkan isi sepuluh risalah pemuda ?

1.4. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang digunakan penulis dalam penyusunan karyatulis ini
adalah :

Bab I Pendahuluan, yang terdiri dari: latar belakang masalah ,tujuan, dan
rumusan masalah

Bab II pembahasan , yang akan dibahas mengenai :

1. Antara moderat dan eksterm

a.melebih-lebihkan dan mengurangi

2. kebangkitan islam di Negara-negara kawasan arab

a.umat dan Negara-negara kawasan arab dalam sejarah islam

b.umat dan Negara-negara kawasan eropa :sebuah studi komparasi

c. kesatuan eksternal menuju pluralisme internal di dunia barat

3. kebangkitan islam di Tunisia

c. fenomena islam yang kompleks

a. keislaman trsdisional

b. keislaman revivalistik

c. keislaman rasional

d. proses pembentukan

4. sejarah islam nusantara :islam meretas kebangkitan

a. fakta peranan pemuda islam

b. pemuda islam Indonesia zaman jepang

c. pemuda islam pasca proklamasi

5. islam dalam lintasan sejarah

c. Bab. I tarekat

d. Bab. II islam dalam dunia moderen

6. Peruabahan diri sendiri menjadi pribadi da'iyah yang baik

7. Sepuluh risalah pemuda

Bab III Penutup, dalam bab ini penulis akan menguraikan mengenai kesimpulan.


BAB II

PEMBAHASAN

1. Antara Moderat Dan Eksterm

Pada zaman rasulullah ada seseorang yang banyak berbicara sehingga digelari
simulut besar setiap rasulullah saw berbicara , ia berusaha menimpali agar dapat
melebihi pembicaraan rasulullah . Hasan al-Bashri pernah mendengar sebuah
nasihat yan amat jelas uraiannya , namun sedikit pun ia tak tersentuh . ini
karena tidak memenuhi syarat sebagai nasihat yang baik dipandang dari segi
ketulusan dan kesungguhan

Cela piskis dapat ditemui pada bnyak orang , baik dikalangan para pemeluk agama
maupun orang atheis .telah umum diketahui bahwa maksiat hati lebih berbahaya
dari pada maksiat anggota tubuh .kesombongan lebih buruk dari pada mabuk ,
meskipun Allah mensyariatkan hukuman langsung kepada orang yang mabuk dan
menangguhkan siksaan bagi orang yang sombong di akhirat kelak .

Nabi musa menegaskan kepada firaun , sebagaimana diterangkan dalam al-quran :

"sesungguhnya aku dating kepada mu dengan membawa bukti yang nyata dari tuhan mu
,maka lepaskanlah bani israil (pergi) bersama aku." (al-araaf:105).al-quran
menyitir jawaban firaun terhadap jawaban nabi musa a.s. , sebagai berikut :
"sesungguhnya musa ini adalah ahli sihir yang pandai ,bermaksud hendak
mengeluarkan kamu dari negeri mu ." (al-A'raaf 109-110) .

Anarki politik merupakan lahan subur pertumbuhan firaunisme . firaunisme ditimur
lebih banyak ketimbang di barat . firaunisme batu sandungan bagi perkembangan
bangsa-bangsa , karena rahasia penyebaran sifat –sifat jahat , baik kecil
ataupun besar , berada ditangan isme ini.

Menurut penulis[1] para pemuda yang ekstern itu telah mengalami distorsi
temperamen .karena kita memiliki visi yang jauh dan misi yang suci , tentu kita
akan memilih yang lebih ringan antra dua pilihan , selama tidak melanggar
syariat . akan tetapi sebaliknya , pemuda-pemuda itu memilih yng sulit

Apakah kelompok ekstern ini mempunyai hubungan spiritual dan intelektual dengan
golongan khawarij ? tampaknya berbeda . karena seperti dikatakan oleh hakim
walid daripemerintahan rasyid , khawarij mempunyai pandangan positif terhadap
musyawarah dan memiliki sikap yang bersih

1. melebih-lebihkan dan mengurangi

pada dasarnya perbedaan pendapat dalam fikih tidak boleh memperlemah ukuwah
islamiyah dan menimbulkan percekcokan . akan tetapi, kelompok eksterm
berkecederungan membesar-besarkan masalah kecil memicu konflik prinsipil

ekstremitas ttidak terjadi pada kondisi social yang mapan . penyimpangan
psikologis tersebut terjadi pada masa krisis pandangan , ketika masalah
khilafiyah dibesar-besarkan . misalnya , posisi tangan dan kaki dalam shalat.

Kelemahan lain yang berbahaya adalah mereka terlampau cepat menuduh pelaku dosa
sebagai kafir atau fasik. Muslim yang meninggalkan shalat karena mengingkari
kewajiban syari . berarti keluar dari islam . sedangkan orang-orang yang malas
melakuakn shalat tetep mengekui dasar pensyariatannya. Tetap saja mereka
menegaskan ," Wajib di bunuh ."

Selama dosa yang diperbuat manusia termasuk dosa syirik , insya Allah , dia
berkenan mengampuninya . memang di antara kelompok eksterm itu ada yang
benar-benar berniat baik dan keinginan memperoleh ridho Allah . akan tetapi,
kekurangannya adalah kedangkalan pengetahuan dan pemahaman keislamannya .
andaikan mereka berwawasan luas , tentu semangat dan komitmen mereka sangat
bermanfaat bagi islam.

Para pendidik dan pemimpin hendaknya menyikapi para pemuda yang bersikap eksterm
dengan penuh kearifan . merupakan suatu keharusan untuk meminta bantuan para
ulama yang peka dan independent untuk membina mereka . ini karena mereka enggan
berkolusi , apalagi dibina , oleh orang-orang yang berada dalam lingkaran
kekuasaan

2. Kebangkitan Islam Di Kawasan Negara-negara Kawasan Arab

Kebangkiatan ini juga membawa ujian –ujian bagi umat islam sehingga mendorong
mereka mencari sebab-sebab kejatuhan dan kehinaan yang menimpa. Beranjak dari
kesadaran ini, mereka menemukan kesadaran baru ,yaitu menghidupkan iman,
mengaktifkan pemikirann ,dan menggairahkan gerakan islam Dalam hal ini, Al-Quran
telah mengisyaratkan melalui kisah perjalanan bani israil (awal surat al-israa')
dan al-hadits menjelaskan tentang lahirnya pembaharu setiap satu abad. Sejarah
islam pun membuktikan isyarat ini .

Kebangkitan ini semakin mengakar dalam organisasi islam, antara lain :
kebangkitan islam mengambil bentuk aktifitas social yang mendidik generasi muda
, selain itu kebngkitan islam bergerak dalam bidang politik . mungkin sebagian
besar perhatian ditujukan kepada al-ikhwan al-muslimun , namun sebenarnya
kebangkitan ini digerakan oleh banyak organisasi islam

Fenomena social yang luas dan kesadaran membaja untuk memisahkan diri dari gaya
hidup eropa dan kembali pangkuan islam telah mendorong umat untuk menerapkan
nilai-nilai islam dalam realitas kehidupan

Kebangkitan islam menimbulkan berbagai pengaruh bagi dunia Arab . Qatar ini
sebagai Negara mewakili tipe pemerintahan dalam masyarakat yang mempertahankan
eksistensi keeropaan dan keislaman menuju kesatuan yang melampaui batas-batas
geografis

Kebangkitan system pemerintahan Negara-negara arab , sebaiknya kita mengingat
masalah integrasi atau disintegrasi tidak dapat dikesampingkan . dampak
kemerdekaan masyarakat Qatar dan integrasi dengan nilai-nilai islam . dampak
langsung dari integrasi adalah tenggelamnya system lama diQatar dan menangnya
system lain .

Dewasa ini, kebangkitam islam merupakan fenomena internasional, hal ini
disebabkan oleh eksistensi islam dalam merespon situasi yang dihadapi dunia .

1. umat dan Negara –negara kawasan arab dalam sejarah islam

islam menyatukan antara ideal-ideal absolute dan realitas nisib. Ideal-ideal ini
diabstraksikan dalam ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin syariah

bentuk Negara islam yang pertama dalam sejarah adalah Negara madinah yang
dipandu oleh Al-Quran dan As-sunah . Negara berikutnya adalah khalifah rasyidah
. dalam system ini , penguasa menjadi pusat dan dorongan umum berangkat dari
kekuasaan pusat dakwah dijalankan secara luar biasa hingga terbentuklah
Negara-negara baru yang berjauhan dan dihuni oleh masyarakat plural .

pemerintahan islam telah mempelopori , bahwa batasan –batasan regional tidak
membagi-bagi kawasan muslimin sebagaimana dilakukan oleh penguasa-penguasa
politik . hanya ada satu lapangan ilmiah , pasar ekonomi , dan konteks
kebangsaan . kesatuan undang-undang juga menjaga dominasi hokum-hukum syariat
sehingga berkembanglah mazhab-mazhab fiqih dan metode-metode tasawuf untuk
menegaskan kesatuan umat dalam paguyuban tarekat.

Ketika islam tidak lagi difungsikan sebagai pengikat hati antar umat ,
dihapuskannya syariat,dan penjajahan imperialis , maka Negara-negara Arab
terpecah belah . tidak ada tersisa dari wilayah islam kecuali hanya persaudaraan
dalam jiwa kaum muslimin , kegetiran masa lampau , dan mimpi masa depan

2. umat dan Negara-negara kawasan eropa : sebuah studi komparasi

sementara itu, ekspansi islam menjajikan kehidupan baru bagi mereka . sejarah
eropa menengarai bahwa kejatuhan tersebut bukan disebabkan oleh kelengahan ,
melainkan karena mengingkari dasar-dasar agama mereka .mayoritas masarakat eropa
berada dibawah pengaruh Kristen selama lebih dari sepuluh abad . menurut mereka
, kondisi tersebut ideal tentang nasionalisme . contoh ideal tersebut berupa
kesabaran imperium dan hubungan harmonis Negara-negara eropa.

Kehancuran system internasional telah memicu lahirnya teori-teori kekuasaan,
seperi teori Machiaveli. Kemudian politik mulai berkembang dengan paham
liberalisme (yang diprakarsi oleh jhon locke , para pakar psikologisesudahnya ,
dan kelompok radikal), kelompok-kelompok reformasi cita-cita umum (teori
Rousseau) , pelestarian sejarah masyarakat (teori Hegel) , dan komunisme –
materialisme(teori Karl Marx)

Meskipun dominasi nasionalisme di eropa membawa pertumbuhan material , namun
akhirnya eropa merasa gamang terhadap penyimpangan pola Negara semacam ini .
mungkin kegamangan tersebut merupakan dampak tradisi kebudayaan yang plural ,
maka berdirilah system, Negara-negara Eropa diatas kaidah undang-undang Negara.
Negara-negara ini mempunyai kawasan terbatas , namun tenggelam dalam konflik
pada masalah-masalah yang telah disepakati kaum muslimin di kawasan daulah
islamiyah .

C. kesatuan eksternal menuju pluralisme internal didunia arab

kawasan Negara-negara arab telah keluar dari kekuasaan administrative
kekhalifahan utsmani . karena pengaruh kemerdekaan politik Negara-negara
imperialis. Pemisahan merupakan munculnya nasioanlisme Arab , sebab bentuk
kemerdekaan dari ikatan keagamaan beralih menjadi nasionalisme Arab .

ketika bangkit keinginan melepaskan diri dari cengkraman imperialisme , gerakan
pembebasan arab segera memisahkan diri dari kelompok-kelompok yang terpengaruh
kebudayaan Eropa . kelompok-kelompok nasional gigih memperjuangkan tercapainya
kemerdekan bagi Negara yang mandiri , tetapi dengan konsep-konsep eropa .

Masyarakat merasa perlu mengedepankan warisan keagamaannya untuk mengisi
kesenjangan dan memfungsikan symbol-simbol keagamaan untuk membangkitkan
semangat melawan kekuatan asing yang kafir . dalam konteks ini merupakan unsure
jati diri Negara dan pemantik kebangsaan .

Peran islam dikenal perjuangan nasional di luar Negara-negara Arab , termasuk di
Negara-negara asia . peran dilakoni dalam perjuangan kini tinggal kenangan .
itulah sebabnya , islam tidak berperan lagi dalam mempengaruhi proses integrasi
Negara-negara arab yang mandiri.

Meskipun kelompok pembebasan nasional di dunia arab berpedoman pada sekularisme,
tetapi upaya tersebut tidak sukses . mereka hanya berhasil mendirikan
dasar-dasar Negara nasional dan mempersoalkan integrasi . konsep Negara sekuler
mendorong negra-negara arab untuk meninggalkan system syariat dan mengembangkan
system undang-undang tidak berdasarkan islam. Sebagai contoh : Hizbul – Wafd (
partai Wfd) dan Hizbud-Dustuuri (partai perundang-undangan ) di Tunisia .

Walau Negara-negara arab memupuk fanatisme dan nasionalisme namun hal tersebut
tidak sampai memutuskan hubungan antar bangsa seperti eropa

3. Kebangkitan Islam Di Tunisia

Pandangan pada gerakan islam di Tunisia , para pengamat mulai
menginterpretasikan , "sebagian kelompok itu bergerak diseputar tesis yang
dibawa para islamolog yang dinilai tidak orsinil karena materi yang mereka
sajikan serta klaim terhadap mereka sebagai agen politik.

1. fenomena islam yang kompleks

meskipun ada anggapan mengenai keseragaman diantara berbagai macam aktivitas
keislaman dari sisi kesamaan tujuan akhir , yaitu : menghidupkan islam ,
masyarakat , dan hukumnya, namun sebenarnya anggapan itu tidak tepat . menurut
penulis[2] ,fenomena islam di Tunisia merupakan jalinan produk dari perkumpulan
dan dinamika antar tiga unsurgerakan islam . perkumpualan ini amat berat dan
berbagai konflik baik yang muncul maupun yang tersembunyi dan yang disadari
maupun tidak selalu ada

Tiga unsure yang dimaksud adalah :

a. keislaman tradisional

keislaman tradisonal di tunisia terbentuk dari tiga element , yaitu : taklid
dalam bidang fikih pada mzhab maliki , teologi asy'ariyah ! dan pendidikan
sufisme , elemen-elemen tersebut disusun oleh ibnu `Aasyir, seorang faqih mazhab
maliki dari bahan –bahan teologi asy'ari , piqih imam malik, dan tarekat junaid
al- Baghdadi.

2. keislaman revivalistik

keislaman revivalistik (salafi) al-ikhwani muncul dinegara- Negara timur berkat
penyatuan elemen –elemen : metodologi revivalisme, pemikiran sosiopolitik,
metode pedagogic, dan metode pemikiran.

Metodologi revivalisme di bangun diatas penolakan terhadap taklid mazhab fikih
dan teologi serta bertujuan mengembalikan segala permasalahan pada sumber islam
. tujuan yang lain adalah memerangi paham wasilah (perantara) hubungan manusia
dengan Allah dan bid'ah-bid'ah serta mengutamakan nash agama dari pada rasio.

Pemikiran sosiopolitik ala al-ikhwan al-muslimun yang di dasarkan atas keyakinan
tentang kekomperhensipan islam , kekuasaan (mutlak) ditangan Allah , dan
pengkafiran system yang menolak doktrin ini

Metode pedagogic menekankkan aspek ketakwaan

Metode pemikiran yang mengutamakan dimensi akidah-akidah dan ahlak

3. keislaman rasional

pada paruh pertama 1970-an , keislaman rasional telah disapu oleh gelombang
keislaman salafi al-ikhwan al-muslimun . pada akhir 1970-an dan 1980-an, situasi
memungkinkan keislaman rasional untuk tampil kembali . keislaman rasional
terdiri atas beberapa elemen sebagai berikut :

pertama, pemikiran islam rasional mu'tazilah kembali dimunculkan dengan
gagasannya mengenai kebebasan manusia, tauhid, keadilan, dan kemanusiaan .

kedua, keislaman rasional melihat al-ikhwan al-muslimun sebagai hambatan bagi
kebangkitan islam.

Ketiga, mengadakan re-evaluasi terhadap aliran pembaruan yang diupayakan
al-ikhwan al-muslimun dan buku-buku popular mereka yang menilai penafsiran
keislaman rasional menyimpang

Keempat, menerapkan pemahaman maknawi terhadap islam dan menghindari pemahaman
tekstual .

Kelima, mengadakan evaluasi terhadap barat-kiri.

Keenam, al-ikhwan dan al-mslimun memandang manusia secara teologis , dan
keislaman rasional melihat manusia secara empiris . dalam presfektip kelompok
ini , seseorang sangat mungkin menjadi muslim-marxis-nasinalis

Ketujuh, mengevaluasi aliran pembaruan di Tunisia dengan membawakan ide-ide
controversial seperi pembebasan kaum wanita dan rasonalisasi pendidikan

3. proses pembentukan

proses keislaman ditunisia tetapmempertahankan mazhab maliki dan teologi asy'ari
pada batas-batas tertentu , serta melestarikan tradisi-tradisi keagamaan seperti
mauled nabiSAW . corak keislaman ala al-ikhwani al-muslimun merupakan unsure
yang terkuat dibandingkan kedua unsure lainnya . sedangkan kelompok islam
rasional mempunyai peranan penting dalam melancarkan kritik yang terus
berkembang dalam gerakan islam .

beberapa kritik internal yang acap kali di alamatkan kepada keislaman versi
al-ikhwan al- muslimun tipe lama adalah sebagai berikut :

pertama , kerja sama dengan eksperimen iran pada tahun 1970-an dalam bentuk yang
berbeda dengan gerakan islam salaf.

Kedua, kerja sama dalam eksperimen Sudan, eksperimen ini merupakan gerakan suni
untuk mengatasi pandangan kontemporer mengenai kelompok salaf .

Ketiga, kerja sama dengan berbagai kelompok .

Keempat, kerjasama antara keislaman salafi dan rasional tidak terbatas pada
bidang politik .

Diantara fenomena dinamika ini adalah perubahan pandangan tentang system
teologis yang mengkafirkan system yang disnggap tidak islami kepandangan
sosiopolitik teologis yang komperhensip.

Penjeelasan paling awal yang diberikan oleh gerakan dalam kiprahnya memasuki
wilayah politik adalah sejak peristiwa '26 ( Janfi1978). Gerakan menghadapi
system penguasa secara gigih bertanggung jawab atas peristiwa – peristiwa
politik .

Sedangkan keislaman rasional mulai meninggalkan sikap berlebihan dan meringankan
serangan-serangannya terhadap kelompok – kelompok salafi dan tradisional . hal
itu menandakan munculnya keseriusan untuk menjauhkan diri dari sikap merendahkan
kelompok-kelompok lain . kelompok islam rasional pun mulai meninggalkan kiri
islam dan mencoba lebih mengapresiasi perasaan salafi.

Sebelumnya kelompok islam rasional melancarkan serangan pemikiran terhadap
kelompok salafi secara terus menerus . kelompok ini juga mengerahkan kemampuan
opyimalnya untuk mendekati aliran kiri ( kiri-marxis,pen) pada level teoritis
dan praktis , baik dengan mengadopsi pemahaman marxisme ortodoks maupun
Neomarxisme .

Seiring dengan konflik – konflik yang terjadi , terjalin pula kerja sama antara
kelompok tradisional , salafi , dan rasional , atau dengan kata lain , antara
tradisi , teks, dan realitas. Akan tetapi , kerja sama tersebut sangat sulit
terrealisasi .

Aspek yang tersisa dari kelompok tradisional adalah apresiasi terhadap ciri-ciri
khususnya, yakni mengapresiasi mazhab Maliki sebagai teknik pelaksanaan ibadah,
tradisi-tradisi keagamaan, memperbaiki pengamalannya dengan melepaskan diri dari
bid'ah, dan tidak melarang pertemuan dan afiliasi terhadap gerakan dengan
membiarkan gerakan berkembang secara natural melalui aktivitas-aktivitasnya.

Aspek yang tersisa dari keislaman salafi ala al-Ikhwan al-Muslimun adalah
penerapan pandangan khas mereka dan hasilnya yang dapat diringkas menjadi tiga
butir sebagai berikut.

Pertama, rujukan kaum muslimin adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah tanpa takwil yang
menyimpang dan jauh dari teks (nash). Peran rasio bukanlah sebagai sumber hukum
syariat, melainkan hanya sebagai alat bantu untuk memahami redaksi nash,
kejelasan pesan, dan ber-istinbath (mengambil konklusi) dari teks dengan
metodologi yang telah disepakati para ulama.

Telah disepakati bahwa pembuat hukum adalah Allah SWT. Karena itu, syariat
bersifat tetap meskipun fikih dapat berkembang atau berubah sejalan dengan
kondisi masyarakat. Seorang muslim yang telah mencapai tingkat mujtahid atau
orang-orang yang mempunyai otoritas di bidang fikih dapat memilih
pandangan-pandangan fikih, baik yang klasik maupun modern, sepanjang pilihan itu
relevan dengan situasi kondisi dan tidak menyimpang dari garis pemikiran Islam.
Seorang muslim yang ahli dalam ushul fikih hendaklah mengambil konklusi dari
dasar-dasar hukum Islam.

Kedua, mempercayai kekomprehensifan dan relevansi Islam untuk segala zaman,
wilayah, dan manusia. Islam juga sejalan dengan pluralisme dan
kecenderungan-kecenderungan seluruh umat manusia.

Ketiga, menyadari pentingnya kerja kolektif yang terorganisasi untuk mengadakan
perubahan metodologi Islam dalam rangka menerapkannya sebagai sistem kehidupan
dan peradaban yang praktis.
Sedangkan yang tersisa dari keislaman rasional di Tunisia adalah elemen-elemen
pemikiran Islam sebagai berikut.

Pertama, menekankan pentingnya pembebasan dari taklid terhadap tradisi.
Contoh-contoh yang pernah terjadi dalam sejarah Islam tidak ada yang harus
dipertahankan kecuali teks-teks agama itu sendiri dan hubungannya dengan
realitas. Metode yang ditempuh adalah berijtihad untuk menarik konklusi
pemikiran-pemikiran baru mengenai masyarakat dan peradaban.

Kedua, menekankan pentingnya memahami realitas dan perkembangan lokal (nasional)
dan internasional. Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan masyarakat baru yang
mempunyai rasio terbuka dan jiwa yang bebas.

Ketiga, menegaskan diakuinya hak berbeda pendapat dalam hal-hal ijtihadiyah,
namun harus disertai dengan kesatuan barisan umat Islam.

4. Sejarah Islam Di Nusantara : Islam Meretas Kebangkitan

Islam Meretas Kebangkitan Deliar Noer berkata, "Nasionalisme Indonesia dimulai
sebenarnya dengan nasionalisme Islam". Katanya lagi, "Sesuatu gerakan yang
penting di Indonesia mulanya adalah gerakan orang-orang Islam. Mereka yang
bergerak di bawah panji-panji yang bukan Islam kebanyakannya terdiri dari mereka
yang telah meninggalkan tempat buaian mereka semula, tempat mereka mula-mula
sekali mengecap asam garam pergerakan."

Hal ini dapat kita buktikan. Beberapa tokoh pergerakan nasional terkemuka dari
berbagai aliran berasal dari gerakan Islam. Untuk aliran nasionalisme radikal Ki
Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) tadinya berasal dari Sarekat Islam (SI).
Soekarno sendiri pernah menjadi guru Muhammadiyah dan pernah nyantri di bawah
bimbingan Tjokroaminoto. Bahkan beberapa tokoh-tokoh PKI zaman pergerakan
nasional berasal dan terinspirasi oleh perjuangan SI. Tan Malaka sendiri, yang
menurut Kahin, adalah seorang Komunis Nasionalis dan pendiri partai Murba,
berasal dari SI Jakarta dan Semarang.

Umat Islam menduduki peran utama dalam gerakan politik dan militer. Semua perang
yang terjadi bersukma dari seruan jihad, perang suci. Sewaktu Pangeran
Diponegoro–pemimpin Perang Jawa–memanggil sukarelawan, maka kebanyakan mereka
yang tergugah adalah para ulama dan ustadz dari pelosok desa. Pemberontakan
petani menentang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19
selalu di bawah ..

Demikian pula yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, dan diteruskan
oleh Cut Nyak Dhien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan kape-kape
(Kafir-kafir) Belanda yang menyengsarakan umat Islam dan rakyat Aceh.

Begitu juga dengan perang Padri. Bisa dilihat, nama perang Padri menunjukkan
perang ini adalah perang keagamaan. Kata padri berasal dari kata `Padre'
(pendeta atau pastur). Nama perang ini diberikan Belanda, meskipun Belanda
memberi penafsiran yang salah bahwa pejuang-pejuang itu adalah
`pendeta-pendeta'. Perang tersebut berlangsung selama 16 tahun. Selama itu
bentrokan terjadi di kalangan ulama Indonesia: `kaum tua' dengan `kaum muda'.

Bentrokan ini dimanfaatkan Belanda untuk mengadu domba, namun tidak berhasil.
Akhirnya kedua kubu yang saling berselisih itu bersatu dan bersama-sama melawan
Belanda.

Para ulama juga memimpin pemberontakan terakhir yang terjadi pada tahun 1927 di
pantai barat Sumatera. Belanda, seperti pemerintahan Orde Baru, mencap semua
pemberontakan melawan pemerintahan adalah komunis atau PKI. Sehingga hari ini
kita temui dalam buku sejarah bahwa pemberontakan tahun 1927 di Sumbar itu
adalah PKI. Padahal itu dilakukan oleh Sumatera Thawalib. Memang ada sebagian
anggota Sumatera Thawalib yang kemudian menjadi anggota PKI tapi itu hanya
sebagian kecil saja (Lihat Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia).

Pada saat itu gerak maju perjuangan kemerdekaan Indonesia pindah ke lingkungan
politik dan sipil, namun tetap mempunyai warna Islam yang kuat.

Pada 1912, pergerakan politik Indonesia yang pertama, yakni Sarekat Islam (SI),
didirikan. Dengan segera, SI menjadi gerakan massa dengan anggotanya mencapai 2
juta orang pada tahun 1919. Sebenarnya Sarekat Islam sudah berdiri sejak tahun
1905 dengan nama Sarekat Dagang Islam.

H. Agus Salim, Tamar Djaja, Ridwan Saidi, Anwar Harjono, Ahmad Mansyur
Suryanegara, dan Adabi Darban pernah berkata bahwa tanggal berdirinya Sarekat
Dagang Islam ini lebih tepat disebut sebagai "Hari Kebangkitan Nasional", dan
bukan tahun 1908 dengan patokan berdirinya Boedi Oetomo. Karena ruang lingkup
Boedi Oetomo hanyalah Pulau Jawa, bahkan hanya etnis Jawa Priyayi pada tahun
1908 itu. Sedangkan Sarekat Dagang Islam mempunyai cabang-cabang di seluruh
Indonesia. Jadi inilah yang layak disebut "Nasional".

Tetapi golongan nasionalis sekuler, sejarawan-sejarawan yang tidak nasionalis,
sejarawan-sejarawan "netral" yang menulis sejarah berdasarkan `pesanan'
mengaburkan hal ini. Golongan nasionalis menyimpangkan karena takut. Asas SDI
(Sarekat Dagang Islam) adalah Islam, sedangkan golongan nasionalis sekuler
paling takut pada Islam sebagai suatu `gerakan'. Mereka disebut Islamofobia,
meski mereka mengaku beragama Islam. Lalu mengapa Boedi Oetomo yang dijadikan
patokan? Karena Boedi Oetomo berdasarkan "Nasionalisme Sekuler" atau lebih tepat
lagi "Nasionalisme Jawa Sekuler"!

Seorang orientalis, G.H. Jansen, pernah menyebutkan beberapa alasan yang
menyebabkan kemunduran Sarekat Islam. "Programnya merupakan kombinasi yang
kurang serasi antara Islam yang agak konservatif dengan anti-kolonialisme yang
keras. Kombinasi ini akhirnya menghancurkan kesatuan di dalam diri organisasi
itu sendiri dan popularitas organisasi" (G.H. Jansen, Islam Militan).

Tapi sesungguhnya Jansen telah salah besar. Dikotomi yang ia nyatakan, Islam dan
antikolonialisme adalah keliru. Sebab salah satu karakteristik Islam adalah
antikolonialisme. Apalagi dengan mengatakan Islam itu "agak konservatif". Ini
salah sekali. Karena Islam itu progresif dan "up to date", selalu relevan
sepanjang zaman.

Kesalahan lain Jansen karena ia mengatakan penyebab kehancuran SI adalah
kombinasi yang kurang serasi antara Islam dengan antikolonialisme. Padahal
penyebabnya (penyebab utama) adalah infiltrasi dan penetrasi dari orang-orang
komunis kepada Sarekat Islam. Mereka mengira Islam dan komunis sama karena
sama-sama membela kaum tertindas (mustadh'afin).

Penyebab tertipunya orang-orang Islam anggota SI ini adalah karena SI kurang
memberikan porsi yang cukup untuk membahas Islam secara ilmiah, pembahasan
masalah sosial, dan kehidupan sehari-hari secara ilmiah. Sedangkan orang-orang
komunis menyentuh bidang akal. Akhirnya hancurlah SI. Tadinya SI adalah sebuah
partai politik terbesar di Indonesia/Hindia Belanda kemudian pecah menjadi dua.
SI Putih tetap bergaris dan berhaluan Islam, sedangkan SI Merah bergaris dan
berhaluan komunis yang nantinya berubah menjadi PKI.

Saingan SI yang berhasil adalah Muhammadiyah. Sebenarnya kurang tepat juga bila
disebut saingan karena kedua organisasi ini `fastabiqul khairat' (berlomba-lomba
berbuat kebaikan), apalagi mereka menghadapi musuh yang sama yaitu penjajah
Belanda. Tetapi penulis tetap memakai istilah ini karena berdasarkan pada
istilah yang dipakai para ahli sejarah Indonesia, baik sejarawan Indonesia
maupun sejarawan asing (Indonesianis). Muhammadiyah didirikan di tahun yang
sama, 1912. Muhammadiyah aktif khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial
dakwah bilhal serta dakwah bil lisan.

Tahun 1925 berdirilah Jong Islamieten Bond (JIB). Anggotanya kebanyakan adalah
golongan elit yang berpendidikan Barat yang masih ingin memegang teguh
keislaman. JIB di kemudian hari banyak menghasilkan pemimpin-pemimpin Indonesia
Merdeka, semisal M. Natsir, Moh. Roem, Yusuf Wibisono, Harsono Tjokroaminoto,
Sjamsuridjal, dan lain sebagainya. Dengan demikian sampai tahun 1930 pergerakan
nasional Indonesia praktis didominasi (kalau tidak mau disebut dimonopoli)
aktivis-aktivis Islam. Perjuangan tahun 1930-an sampai 1940-an terdiri dari
pergerakan Islam dan golongan nasionalis sekuler atau "kalangan kebangsaan yang
netral agama", istilahnya Deliar Noer.

Orang-orang nasionalis berkata bahwa o-rang-orang nasrani pun turut berjuang
dalam usaha mengusir penjajah. Mereka mengambil contoh Pattimura atau Thomas
Mattulessy. Padahal tulisan tentang Thomas Mattulessy hanyalah omong kosong dan
isapan jempol dari seorang yang bernama M. Sapija (Agung Pribadi, Pattimura itu
Muslim Taat, 2003 atau Drs. M. Nour Tawainella, "Menjernihkan Sejarah Pahlawan
Pattimura" dalam Panji Masyarakat 11 Mei 1984). Tokoh Thomas Mattulessy tak
pernah ada. Yang ada adalah Kapiten Ahmad Lussy atau Mat-Lussy, seorang Muslim
yang memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan penjajah Belanda.

Menurut Fakta sejarah, bahkan Sisingamangaraja XII pun seorang muslim. Tetapi
Nugroho Notosusanto cs berkata bahwa Sisingamangaraja XII adalah penganut agama
Sinkretis antara agama Kristen, Islam dan agama Batak.

Jendral Sudirman yang seorang guru Muhammadiyah pun adalah seorang Islam yang
taat. Sudirman berjuang mengusir Belanda tidak atas dasar nasionalisme sekuler.
Dia berjuang sebagai seorang Muslim yang membela negaranya. Tulisan tentang
beliau kebanyakan ditulis oleh orang-orang nasionalis sekuler seperti Nugroho
Notosusanto yang kini terbukti telah memalsukan Sejarah PKI. Ia juga kedapatan
memalsukan sejarah Jong Islamieten Bond pada buku Sejarah Nasional Indonesia
jilid V halaman 195-196.

R.A. Kartini pun bukanlah seorang yang memperjuangkan emansipasi wanita an sich.
Ia seorang pejuang Islam. R.A. Kartini sedang dalam perjalanan menuju Islam yang
kaaffah, ketika ia mencetuskan ide-idenya. R.A. Kartini sedang beralih dari
kegelapan (jahiliyah) kepada cahaya terang (Islam) atau minazh zhulumati ilan
nuur (Habis Gelap Terbitlah Terang), tetapi ia wafat sebelum sempat membaca
terjemahan al-Qur'an selain juz 1 sampai juz 10. Akibatnya pengaruh
teman-temannya yang mayoritas Nasrani dan Feminis Liberal, bahkan ada yang
Yahudi, masih terlihat jelas.

a. Fakta peranan pemuda islam
Ada fakta menarik yang dipublikasikan oleh Ahmad Mansyur Suryanegara tentang
peranan pemuda. Selama ini tokoh-tokoh seperti Endang Saefuddin Anshari, Harry J
Benda, John Igleson Clifford Geertz, dalam karyanya menggolongkan tokoh agama
yang karena menyandang gelar "Haji" atau "Kiai" menyangka bahwa mereka sudah
tua. Padahal mereka adalah para pemuda. Misalnya HOS Tjokroaminoto pada waktu ia
memimpin SI usianya masih muda. Pada tahun 1912 ia baru berusia 30 tahun.
Melihat ke masa sekarang pengertian pemuda berdasarkan keputusan Menteri P dan K
RI No. 0323/V/1978, pemuda adalah orang di luar sekolah maupun perguruan tinggi
dengan usia antara 15-30 tahun. Kiai Haji Mas Mansur yang pada usia 12 tahun
sudah menunaikan ibadah haji, sudah masuk gerakan mencintai tanah air. Kemudian
mendirikan Nahdhatul Wathan yang berarti "Kebangkitan Negeri atau Negara" pada
tahun 1916 saat usianya baru 20 tahun. Ia lalu pindah ke Muhammadiyah dan aktif
di sana pada umur 26 tahun.

Demikian pula halnya dengan organisasi pemudi, rata-rata anggota dan pemimpinnya
di bawah 30 tahun. Tetapi selama ini para ahli menggolongkannya sebagai gerakan
wanita. Apalagi dengan peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember, maka orang
mengira bahwa yang bergerak adalah ibu-ibu yang berusia cukup tua.

b. pemuda islam zaman jepang

. Pada awal pendudukan Jepang semua organisasi dilarang, kecuali MIAI (Majelis
Islam A'la Indonesia) yang nantinya menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin
Indonesia). Organisasi semi militer dari Masyumi adalah Hizbullah dan Sabilillah
yang juga diperbolehkan eksis. Di sana adalah ajang pelatihan semi militer dari
pemuda-pemuda. Lambang organisasi militer PETA adalah simbol Islam, yaitu bulan
sabit. Yang menjadi komandan-komandan PETA dipilih orang yang berpengaruh.
Selain guru sekolah, banyak sekali guru pesantren yang menjadi komandan PETA
dengan pangkat perwira menengah. Menurut seorang ahli dari Belanda, BJ Boland,
ini adalah salah satu hikmah pendudukan Jepang bagi umat Islam Indonesia, yaitu
islamisasi di kalangan tentara Indonesia. Tetapi di akhir pendudukannya, Jepang
lebih mendekati golongan nasionalis sekuler melalui Jawa Hokokai (Kebaktian
Jawa) dan gerakan 3A.
c. pemuda islam pasca proklamsi

Pada masa Revolusi mayoritas orang Islam berjuang dengan takbir "Allahu Akbar".
HMI pun berdiri di tengah-tengah revolusi tahun 1947. Pada Masa Demokrasi
Liberal, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menjadi organisasi Onderbouw
atau bawahan dari partai-partai yang ada. Dengan kata lain pemuda terlibat dalam
"Politik Aliran". HMI walaupun independen dan bukan merupakan Onderbouw Masyumi
seperti yang dikira banyak orang, akan tetapi tokoh-tokoh HMI sangat dekat
dengan tokoh-tokoh Masyumi karena adanya persamaan ideologi keagamaan
(modernisme Islam) dan kepentingan, yaitu anti PKI.

Pemuda dan Mahasiswa Islam 1965-1985
Pemuda Islam terutama PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa
Islam) berperan sangat besar dalam Orde Baru. Biasanya apabila ada suatu
perubahan sosial baik yang radikal (revolusi) atau evolusi, peran pemuda Islam
terutama mahasiswa Islam cukup menonjol. Misalnya dalam revolusi di Iran dengan
Bani Sadr, Khomeini, dan Ali Syariatinya, di Afghanistan dengan Ghulam Muhammad
Niyazi beserta murid-muridnya para ketua aliansi tujuh partai terbesar di
Afghanistan semisal Gulbudin Hikmatyar, Abdur Rabir Rasul Sayyaf, Burhanudin
Rabbani, dan lain-lain. Juga revolusi di Aljazair dengan Abbas Madani beserta
FIS-nya. Evolusi di Malaysia dengan Anwar Ibrahim yang dulunya merupakan aktivis
demonstrasi mengkritik pemerintah Malaysia (dia berasal dari ABIM, Angkatan
Belia Islam Malaysia), dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Di Indonesia memang peran pemuda Islam selalu menonjol, misalnya Jong Islamieten
Bond (JIB) dalam pergerakan nasional yang mana cabang-cabangnya tersebar di
seluruh Indonesia. Pemuda Masyumi pada masa Demokrasi Liberal juga sangat
berperan. Untuk periode 1960-an sampai 1970-an yang menonjol adalah PII, HMI,
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, organisasi di bawah naungan NU).
Akan tetapi dalam periode 1965-1985 peranan pemuda Islam agak tersamarkan karena
semua organisasi pemuda Islam, para anggotanya melepas "jaket" dan melebur dalam
organisasi yang bersifat nasionalis. PII masuk dalam KAPPI. HMI dan PMII dalam
KAMI dan banyak lagi. Organisasi-organisasi seperti di atas terlibat dalam
bentrokan-bentrokan fisik di lapangan (di daerah) dan mengalami benturan sangat
keras. Benturan antara kubu "hijau" dengan kubu "merah". Dalam mengkritik Rezim
Soekarno, PII dan HMI sangatlah vokal dan ini menjadi ciri mereka yang utama.
Tetapi entah mengapa sejak HMI mengakui Pancasila sebagai asasnya, ciri vokal
itu hilang. Atau PII yang tetap vokal dan tidak mengakui Asas Tunggal Pancasila
menyebabkan organisasi itu secara atas tanah dikatakan bubar tetapi di bawah
tanah PII itu tetap eksis, namun menjadi PII-Ilegal. Tahun 1973 pelajar-pelajar
Islam yang tergabung dalam PII menguasai gedung DPR-RI pada saat berlangsung
sidang membahas RUU Perkawinan.

Pada tanggal 20 Maret 1978 terjadi Demonstrasi menentang P4 dan aliran
kepercayaan masuk GBHN oleh Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang dimotori Abdul Qadir
Djailani. Demikian pula delegasi PII, HMI, GP Anshor, IMM, IPNU, dan PMII
intensif berdialog di gedung MPR-RI dengan para anggota MPR sejak tahun 1977
sampai tahun 1978 menentang masuknya aliran kepercayaan dalm GBHN 1978. Last but
not least, HMI, IMM, PMII, dan pendatang baru KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Muslim Indonesia) sangatlah berperan dalam aksi-aksi reformasi menumbangkan
Soeharto. Ternyata dalam rentang waktu yang panjang ini pemuda Islam sangat
berperan dalam menentukan jalannya negeri ini.

5. islam dalam lintasan sejarah

a . Bab I tarekat

Para Sufi yang terdahulu dalam memburu makrifat telah membina dengan
sungguh-sungguh serangkaian "tahap" dengan peraturan ketertiban moril pertapaan
mereka menyamai "penyucian jalan" orang Kristen. Contoh yang menjadi ciri
rangkaian tadi ialah: tobat, pantangan, penolakan, kemiskinan, kesabaran, iman,
kepuasan. Sejak zaman al-Hallaj (lihat halaman 100) beberapa kelompok Sufi yang
berpengaruh telah mulai menggabungkan pada ketertiban amal sehari-hari cita-cita
yang diambil dari doktrin kebatinan atau doktrin Plutinius. Kecenderungan
filsafat itu selama dua abad antara al-Hallaj dan al-Ghazali telah dikukuhkan
oleh perembesan "Surat dari saudara-saudara yang suci" merupakan suatu
ensiklopedi tentang filsafat alamiah Plutinius Baru yang dipopulerkan, yang
berasal dalam kalangan Ismailiyah atau kalangan Syi'ah yang ekstrim. Dibawah
pengaruhnya tahap-tahap penyucian yang dahulu dihubungkan dengan suatu tangga
yang merupakan derajat-derajat yang naik dari "peresapan" watak manusia, watak
malaikat, kekuasaan, kelihaian. Murid baru diterima harus mendaki
tingkat-tingkat evolusi jagat hingga ia "kembali menjadi" Allah.

Dalam pandangan kaum ortodoks, Ibn al-Arabi tidak lebih dari seorang yang tidak
beriman, tetapi karangan-karangannya telah menarik perhatian di seluruh dunia
Islam bagian Timur, khusus wilayah Persia dan Turki. Tafsiran kebatinan doktrin
Islam yang menurut pernyataannya sendiri telah diwahyukan kepadanya sebagai
"khatam, penutup wali-wali" merupakan saingan sistem intelektual bagi ilmu.
kalam ahli ortodoks. Hal itu merupakan bahaya yang cukup besar, akan tetapi yang
lebih berbahaya ialah pengaruhnya atas pemimpin-pemimpin pergerakan Sufi.
Perguruan-perguruan mistik merupakan lingkungan murid-murid yang tertutup, dan
titik berat dialihkan dari pengawasan akhlak sendiri ke pengetahuan metafisika
dengan akibatnya kenaikan kerohanian kearah "manusia sempurna," mikrokosmos Yang
Esa dijelmakan kepadanya sendiri. Tidak semua ahli Sufi tertarik pada agama
paham pantetis itu, dan sedikit saja paham tersebut merembes kedalam badan besar
muslimin yang bertakwa menganut tarekat-tarekat besar; tetapi pintu telah
dibukakan bagi penyimpangan-penyimpangan yang kemudian harus disahkan oleh
pergerakan Sufi.

Perkenalan utama dari Sufi panteis terdapat dalam syair-syair mistik para Sufi
Persia yang besar, khusus dari Jabal ad-Din ar-Rumi dan Jami. Berkatalah Jami:

Mata Kekasih melihat apa yang tidak berwujud, menganggap yang tidak berwujud,
berwujud,

Walaupun tampak pada-Nya sifat-sifat dan kesaktian-Nya sebagai kesempurnaan
tunggal dalam Inti-Nya,

Namun la ingin semuanya tadi dipertunjukkan pada-Nya dalam cermin lain,

Dan bahwa tiap-tiap sifat-Nya yang abadi dijelmakan dalam bentuk bermacam ragam.

Karena itu diciptakan oleh-Nya medan-medan kehijauan waktu dan ruang, dan kebun
pemberi kehidupan, dunia,

Sehingga tiap-tiap ranting, daun, dan buah dapat membuktikan kesempurnaan-Nya
yang berpanca warna.

Penyelenggaraan tarekat-tarekat tadi merupakan salah satu perkembangan yang amat
menarik perhatian dalam sejarah Islam. Tarekat adalah pergerakan populer dalam
asasnya, dalam caranya menarik anggota, dan menarik perhatian. Tarekat tadi
ialah pergerakan populer pertama-tama karena pergerakan Sufi jemu akan doktrin
kaku, ahli kalam, dan memudahkan jalan bagi orang yang ingin masuk Islam (karena
pendapat umum bahwa "kesederhanaan" Islam dengan sendirinya merupakan daya
penarik yang agak dilebih-lebihkan). Dalam pada itu, tambah lemahnya keyakinan
tadi tentu menyebabkan akibat genting. Sebagaimana Sufi mula-mula telah
memasukkan kedalam Islam beberapa unsur ibadat dan iman yang lebih tua di Asia
Barat, sekarang tarekat-tarekat menunjukkan kelembutan yang luar biasa, bahkan
suatu kesediaan yang membahayakan untuk berkompromi dengan kepercayaan dan
kebiasaan agama lama di negeri-negeri lain serta membiarkannya, asal saja
pernyataan iman mereka sudah jelas.

Ditegaskan lagi bahwa diantara tarekat ada perbedaan menyolok dalam hubungannya
dengan kaum ortodoks. Salah satu garis pembelah yang istimewa ialah perbedaan
antara tarekat-tarekat di kota-kota --yang didirikan dan dipelihara oleh
unsur-unsur penduduk kota yang rapat hubungannya dengan alim ulama dan
madrasah-madrasah-- dan tarekat-tarekat pedesaan, yang terutama tersebar di
desa-desa yang --karena kurang terbuka bagi pengaruh para ulama-- lebih mudah
menyeleweng dari kepercayaan ahli ortodoks yang keras itu. Hubungannya dengan
Syi'ah adalah bekas-bekas hubungannya dengan penyelewengan pada permulaannya,
bahwa keturunan kerohanian wali-wali Sufi dikembalikan hingga tokoh-tokoh Syi'ah
yang pertama-tama (misalnya Salman al-Farisi), kemudian Khalifah Ali ra. dan
Nabi Muhammad saw. sendiri. Lebih-lebih karena dalil asasi bahwa tasawuf atau
pengertian tentang pengetahuan ilmu gaib dimiliki oleh tarekat diambil langsung
dari ilmu rahasia --yang dengan jalan rahasia-- telah diberikan oleh Nabi saw.
kepada Ali ra. Pada pihak lain, Syi'ah beritikad sebagai keseluruhan bermusuhan
dengan tarekat-tarekat darwisy ini; karena hampir semua tarekat-tarekat terdapat
diantara kaum Sunni. Keadaan sebagian besar darwisy Syi'ah yang malang dan
merosot merupakan bandingan menyolok dengan kejayaan yang diperoleh alim ulama
Sunni dalam mempertahankan derajat dan panji-panji kaum sunah waljamaah.

Jumlah tarekat dalam dunia Islam amat besar. Disini kami hanya dapat menyebut
beberapa contoh tarekat dalam beberapa negara dan mencatat beberapa ciri mereka
yang khas. Contoh yang terutama dari tarekat "kota" ialah Qadariyah, yang
dinamakan menurut Abd al-Qadir al-Jilani (1077-1166). Beliau asal mulanya
seorang ahli bahasa dan ahli hukum Hambali. Karena beliau amat digemari sebagai
guru di Baghdad, khalayak ramai mendirikan sebuah ribat untuk beliau di luar
pintu kota. Tulisannya pada umumnya aliran kuno, dengan kecenderungan
mentafsirkan Quran secara mistik. Semangat pemujaan penganutnya kemudian
memberikan kepada beliau semua macam mukjizat dan tuntutan bagi tempat yang
terutama dalam martabat mistik. Dikatakan bahwa beliau mempunyai empat puluh
sembilan anak, diantaranya sebelas putra yang meneruskan karyanya dan dengan
murid-murid lain menyebarkan pelajarannya ke lain bagian Asia Barat dan Mesir.
Pemimpin tarekat dan pemelihara makamnya di Baghdad masih keturunan langsung
Syekh Abd al-Qadir al-Jilani. Pada akhir abad kesembilan belas terdapatlah
jumlah besar dari cabang-cabang tarekat ini yang meliputi Maroko hingga
Indonesia --yang hanya secara kendur hubungannya dengan lembaga pusat di
Baghdad-- yang tiap-tiap tahun tetap menjadi tempat ziarah.

Pada waktu St. Louis menyerbu Mesir dalam peperangan Salib yang ketujuh seorang
murid Rifa'i bangsa Mesir, Ahmad al-Bedawi (m. 1276 M.) telah memainkan peranan
penting yaitu menggerakkan penduduk melawan para penyerbu. Tarekat yang
didirikannya dinamakan Bedawiyah atau Ahmadiyah merupakan tarekat pedesaan yang
paling populer di Mesir. Nama tarekat itu terkenal buruk karena melampaui batas
sebagai warisan kebiasaan Mesir purbakala sampai waktu ini menyertai pasar malam
di sekitar makam al-Bedawi di Tantah, dalam daerah Delta. Dua tarekat lain yang
populer di Mesir Bawah ialah tarekat Bayyumi dan Dasuqi, kedua-duanya cabang
tarekat Bedawiyah

Empat abad kemudian, pimpinan Sufi menggerakkan perlawanan terhadap tekanan
Spanyol dan Portugis di Marokko. Bangsa Berber tetap tinggal kaum animis; dan
ketekunan pada kepercayaan dan kebiasaan lama telah memberikan suatu sifat khas
pada Islam Berber yaitu yang dinamakan "Maraboutism" pemujaan wali-wali yang
masih hidup yang memiliki kesaktian sihir (barakah). Pergerakan Sufi di
negara-negara Berber memancarkan dua sorotan. Pada satu pihak, ia memancar ke
negara-negara Negro, sepanjang Niger, (dengan latar belakang yang sama tentang
animisme) marabout alufah setempat menggantikan "dukun" dari pemujaan Fetis
Negro. Pada pihak lain, pergerakan telah mempengaruhi Islam Timur dengan
perantaraan dua tokohnya yang luar biasa.

Tarekat Syadhiliyah umumnya terlampau berlebih-lebihan dalam upacaranya, dan
lebih menggairahkan daripada tarekat Qadariyah, tetapi menarik perhatian khusus
karena banyak cabang-cabang yang didirikan langsung dan bergandengan dengan
tarekat Qadariyah. Diantaranya yang terkenal adalah tarekat Iswiyah dengan
upacaranya yang termasyhur memarang dengan pedang dan tarekat Derqawa yang
ortodoks dan sederhana di Maroko dan Aljazair Barat.

Selain tarekat-tarekat tadi, pengaruh Hindu juga mengambil bagian yang besar
dalam kehidupan keagamaan para buta huruf dan orang muslimin pedesaan yang hanya
diislamkan setengah di desa-desa yang tidak dapat dihitung jumlahnya masih
mempertahankan pemujaan berhala-berhala; dewa-dewa setempat, dan pemujaan setan
meninggalkan bekasnya dalam kehormatan yang acapkali ditujukan khusus oleh
wanita pada Syekh Saddu, tokoh mitos. Tercatat beberapa peristiwa dalam zaman
Mughal tentang sati (seorang janda yang turut dibakar bersama-sama pembakaran
jenazah suaminya) antara orang muslimin dan beberapa masyaraka yang masih
mempertahankan upacara "api suci." Peraturan kasta telah masuk dalam Islam
India. Kedudukan Islam telah digambarkan sebagai berikut oleh salah seorang
tokoh Islam dari zaman India Modern, Sir Muhammad Iqbal, (seorang ahli mistik)

Di Asia Barat pergerakan Sufi telah mencapai puncaknya dengan pembinaan Kerajaan
Dinasti Osman dalam abad keenam belas. Rupanya masing-masing desa dan tiap-tiap
persatuan pertukangan dan golongan di dalam kota telah terhubung dengan salah
satu tarekat. Bahkan tarekat Melamiyah3 yang menentang hukum, memiliki penganut
diantara pegawai-pegawai negeri tingkat tinggi. Satu-satunya jalan bagi alim
ulama untuk dapat mempertimbangkan aliran ortodoks dengan paham Sufi adalah
mengubah Sufi dari dalam. Turut sertanya mereka menyebabkan kehidupan baru dan
perluasan dari tarekat-tarekat yang lebih ortodoks, khusus tarekat
Naqsybandiyah, (mula-mula didirikan di Asia Tengah dalam abad keempat belas, dan
pada waktu itu dipropagandakan dari India) dan tarekat Anatolia Khalwatiyah,
yang dipropagandakan di Mesir dan Siria dalam abad kedelapan belas oleh Syekh
Mustafa al-Bakri (m. 1749) .

Diantara orang suci Syi'ah di Persia, biarpun adanya perlawanan kuat, pengaruh
cita-cita Sufi tidak dapat dilenyapkan semuanya. Pembentukan resmi keyakinan
Syi'ah oleh Pemerintah Safawi yang baru dalam abad keenam belas telah menyokong
penerbitan kesusasteraan pelajaran teratur dalam bahasa Persia dan Arab tentang
soal-soal keagamaan Syi'ah, yang hasilnya kemudian diikhtisarkan secara sah
dalam karangan-karangan Muhammad Baqir Majlisi (m. 1699). Di samping itu,
perkembangan sebelumnya dari syair Sufi di Persia dan doktrin-doktrin Ibn
al-Arabi terus menerus menarik perhatian, yang tidak dapat dibinasakan oleh
pengutukan ulama siapa pun.

Dengan perantaraan tulisan-tulisan ahli suluk Muhammad Sadr ad-Din (Mulla Sadra,
m. 1640) mereka mempengaruhi pertumbuhan paham Syi'ah baru yang tidak sesuai
dengan paham resmi yang dinamakan menurut pengaturnya Syekh Ahmad dari al-Ahsa
(m. 1826), tarekat Syaikhiyah. Walaupun hanya sedikit saja yang diketahui dari
sifat dan doktrin-doktrin yang sebenarnya dari aliran tersebut, ada titik
persamaan antara "penyelewengan" mereka dan Sufi ortodoks pada waktu yang sama
ialah doktrin suatu "alam perumpamaan" (alam al-mithal), suatu alam metafisik,
dimana pembatasan-pembatasan kebendaan, badaniah dari barang-barang kasar
digantikan dengan barang-barang halus atau dari langit. Doktrin utama Syaikhiyah
adalah kebutuhan akan saluran hubungan yang hidup dengan "imam yang
tersembunyi," dan merupakan akar yang menumbuhkankan pergerakan Babi dalam abad
kesembilan belas.

b. Bab II islam dalam dunia modern

Bagi seorang peninjau, pada akhir abad kedelapan belas merupakan akhir
perkembangan sejarah Islam. Berdasarkan ajaran keesaan Tuhan yang sederhana,
cermat, dan keras, yang diberikan oleh Muhammad saw. pada masyarakat Arab yang
kecil, Islam telah meluas hingga suatu kompleks dari mazhab dan aliran ilmu
ketuhanan yang ditaruh atas bermacam-macam
himpunan dengan upacaranya sendiri, cita-cita dan ibadat agama yang
berbeda-beda. Apabila pendapat si peninjau tadi dicat dengan filsafat Eropa
Barat pada waktu itu, boleh juga ia menganggap susunan keseluruhan tadi dijalin
dengan takhayul dan ditakdirkan untuk dimusnahkan dalam waktu yang dekat oleh
kekuatan, kemajuan, dan penerangan.

Tidak seorang pun peninjau di luar dapat menaksir kekuatan benang-benang yang
tidak tampak, yang pada saat tantangan dapat mengumpulkan anggota berjenis-jenis
kelompok menjadi satu masyarakat dengan satu tujuan, satu kemauan, ataupun daya
hidup suatu cita yang besar --yang ditutupi dengan endapan beberapa abad--
apabila cita-cita tadi dihadapkan kepada tugas baru dan banyak bahaya. Sejarah
Islam dan usaha untuk menyesuaikan diri dibawah dua dorongan yaitu tantangan
dari dalam dan tekanan bahaya dari luar. Mula-mula secara perlahan-lahan dan
tanpa kemunduran, dengan kepesatan yang bertambah, masyarakat Islam berkumpul
menjadi satu dan mulai meninjau pertahanannya. Masyarakat Islam bangkit kembali
dan waspada mencari rencana untuk bersatu maju ke hari depan masih tidak
diketahui dan tidak diramalkan.

Pandangan sebagian besar muslimin dan hampir semua bangsa Barat bahwa
tekanan-tekanan luar yang timbul dari perluasan politik dan ekonomi Eropa Barat
terlihat sayup-sayup lebih besar daripada tantangan dari dalam. Tetapi yang
akhir ini datang dahulu dan berasal dari pusat masyarakat Islam. Akibatnya lebih
mendalam daripada akibat yang timbul dari hubungan dengan Barat.

Pangkal mulanya ialah Arabia Tengah. Lebih kurang dalam tahun 1744 seorang
bernama Muhammad ibn Abd al-Wahab dengan sokongan keluarga kerajaan Su'ud, Emir
setempat dari Dar'ijah mulai suatu pergerakan pembaharuan berdasarkan mazhab
Hambali yang sederhana dan pelajaran anti Sufi dari ibn Taimijah dan penganutnya
dalam abad keempat belas. Pergerakan Wahabi ini (sebagaimana pergerakan ini
seterusnya terkenal) pertama-tama ditujukan menghadapi kemunduran tata sila dan
kemerosotan agama dalam pedesaan dan pada suku-suku, mengutuk pemujaan orang
suci dan bid'ah-bid'ah lain dari kaum Sufi sebagai penyelewengan dan kekufuran,
dan akhirnya juga menyerang mazhab-mazhab lain karena komprominya dengan
bid'ah-bid'ah yang dibenci itu. Dalam semangatnya untuk mengembalikan kesucian
kesederhanaan iman, pangeran-pangeran Su'udi memerangi tetangganya, dan setelah
menundukkan Arabia Tengah dan Arabia Timur, menyerang propinsi-propinsi Dinasti
Osman di bagian utara dan syarif-syarif turun temurun dari Mekkah di Hijaz.
Karbela di Irak telah dirampas habis-habisan dalam tahun 1082, Mekkah akhirnya
ditundukkan, diduduki, dan "dibersihkan" dalam tahun 1806. Dengan kedua
tantangan tadi terhadap kekuasaan Dinasti Osman dan terhadap adat istiadat
Katholik dalam Islam orang-orang Wahhabi yang hingga kini merupakan aliran yang
samar, telah menarik perhatian seluruh dunia Islam. Tantangan tersebut telah
diterima atas nama sultan oleh Gubernur Mesir Muhammad Ali; pada tahun 1818
kekuasaan Wahhabi telah dipatahkan. Dar'ijah ditundukkan dan dibumihanguskan dan
keluarga Su'udi yang pegang pemerintahan dikirimkan ke Istambul untuk dihukum
mati.

Lenyapnya kekuasaan politik Wahabi di Arabia itu tidak berarti berakhirnya
pergerakan Wahhabi. Bahkan di bidang politik kesan-kesannya telah berlaku cukup
lama hingga tidak mudah dibinasakan. Di Nejd masih ketinggalan pemerintahan
seorang Emir Su'udi. Meskipun ia untuk sementara waktu kurang berkuasa daripada
keluarga Rasjidi di Hail, yang dulu pernah di bawah pengawasannya, pemerintah
Emir Su'udi tersebut dapat membaharui kekuatannya dan menguasai kerajaan Arab
dalam abad ini di bawah pimpinan Abd al-Aziz, pembina kerajaan baru Arabia
Sa'udiya.

Lebih dalam pengaruhnya sebagai kekuatan agama dalam masyarakat Islam. Sifat
tidak luwes dan ekses-ekses penganutnya yang terdahulu di Arabia dan penganutnya
di India dan Afrika Barat pada permulaan abad kesembilan belas patut dikutuk
oleh seluruh umat Islam. Pecahnya pergerakan Wahhabi hanya merupakan pernyataan
yang ekstrim dari kecenderungan yang dapat dijumpai di beberapa bagian dunia
Islam dalam abad kedelapan belas. Dengan lampaunya tahapan tidak luwes yang
aktif, patokan-patokannya menguatkan pergerakan untuk kembali kepada paham eka
Tuhan dari umat Islam yang mula-mula. Pergerakan tadi digabungkan dengan
perlawanan terhadap perembesan Sufi bertambah besar dalam abad kesembilan belas,
dan telah menyusun dalam bentuk berlainan sebagai salah satu sifat utama Islam
modern.

Menarik perhatian ialah pemberontakan dimulai dalam propinsi yang paling asli
Arab. Dalam garis besar kekuatan-kekuatan agama yang telah membentuk Sufi
setelah al-Ghazali bukanlah orang Arab, melainkan orang Berber, Persia, Turki;
walaupun dapat dikatakan tidak masuk akal untuk menghubungkan hal tersebut
dengan penaklukan politik tanah-tanah Arab. Pemasukan mereka menyebabkan
melemahnya keunggulan "cita-cita Arab" dalam Islam dan pengaruh alim ulama Arab
yang dahulu sampai dengan al-Ghazali. Kebanyakan orang Persia dan Turki Mathnawi
dari Jalal ad-Din ar-Rumi telah menggantikan Hadis Nabawi sebagai penjelasan dan
tafsir ajaran agama dan kesusilaan Quran. Bahkan para alim ulama yang terkemuka
dari abad kedelapan belas --sebagaimana telah kita maklumi-- telah menghubungkan
warisan ajaran yang lebih tua dengan doktrin kebatinan Sufi yang datang
kemudian.

Penghidupan kembali aliran Wahhabi adalah pernyataan baru yang pertama dari
cita-cita Arab, dan kemudian disusul oleh pernyataan lain yang bebas asalnya.
Pada akhir abad yang sama, seorang sarjana Yaman, Muhammad al-Murtada (m. 1790),
telah diterbitkan pengesahan baru yang besar dari al-Ghazali. Percetakan Arab
yang mulai dikerjakan di Mesir dalam tahun 1828 menghasilkan perbanyakan dan
penyebaran buku-buku pelajaran baku tentang ilmu ketuhanan dari abad pertengahan
dan menghidupkan kembali gengsi sarjana-sarjana Mesir dalam ilmu pengetahuan
Arab. Sarjana-sarjana Eropa yang membahas ilmu pengetahuan ketimuran yang
menerbitkan naskah-naskah tua dengan penyelidikannya membantu langsung dan
menimbulkan pertentangan meneropongkan perhatian kepada abad-abad terdahulu.
Usaha-usaha itu semuanya digabungkan untuk menekankan perbedaan antara Islam
zaman dahulu dan hari kemudian, serta memburukkan kalangan cerdik pandai dan
kaum sastrawan keturunan Persia dan Turki. Mereka menyiapkan jalan bagi
kembalinya daya karsa dan pengaruh Arab dalam dunia Islam, yang muncul maju
dengan pergerakan pembaharuan Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Abduh pada awal
abad ini.

Masih jauh jalan yang harus ditempuh sebelum titik ini tercapai. Dorongan Sufi
dari abad kedelapan belas belum habis kekuatannya. Khusus di Afrika Barat Laut,
Sufi mendapat kejayaan yang segar, waktu seorang murid Berber dari tarekat
Khalwatiyah, Ahmad al-Tijani mendirikan tarekat Tijaniyah dalam tahun 1781.
Tarekat baru itu dengan pesat meluas ke jurusan Barat dan ke tanah Negro, dimana
ia bertalian dengan pergerakan memperoleh penganut dengan cara fanatik dan
berdarah, terutama atas kerugian tarekat Qadariyah yang suka damai. Di India,
Asia Tengah, dan di kebanyakan negara Islam yang jauh letaknya timbullah
penghidupan baru Sufi dalam abad kesembilan belas. Hanya di pusat tanah Arabia
dan kota-kota, pergerakan Sufi terus menerus mundur.

Diantara para Sufi kebangkitan baru kaum ortodoks seakan-akan memberikan
pengaruh yang bertambah. Kecuali tarekat-tarekat yang lebih ekstrim dan tarekat
yang tidak teratur, upacara dan latihan-latihan yang berlebih-lebihan lambat
laun ditinggalkan, serta sebagian besar dari ketuhanan kebatinan dan
kecenderungan panteis. Alim ulama ortodoks langsung tetap memberikan tekanan
dalam jurusan itu. Dengan mengundurkan diri dari hubungannya yang dahulu rapat
dengan tarekat-tarekat mereka umumnya mengambil tempat di tengah-tengah: menolak
serba asasi kaum Wahhabi dengan alirannya yang bersifat fanatik dan tidak luwes
dan menolak tuntutan murid-murid Sufi. Dengan berpegang teguh pada doktrin
Katholik tentang ijmak, mereka menyatakan (dan sebagian besar tetap menyatakan)
bahwa walaupun pemujaan wali-wali bertentangan dengan Islam, menghormati orang
suci dan doa dengan perantaraan mereka diperbolehkan hukum.

Sikap lunak dan sikap konservatif alim ulama tadi bukanlah sesuai dengan
perasaan para pejuang pembaharuan; dan dalam tiap-tiap generasi membentuk
lembaga-lembaga baru untuk mempropagandakan prinsip-prinsip mereka. Dalam bagian
pertama abad kesembilan belas, perkembangan baru yang amat menarik perhatian
ialah pembentukan jamaah utusan kaum pembaharuan atas dasar tegas ortodoks,
tetapi disusun atas garis-garis tarekat-tarekat. Pergerakan ini diambil oleh
keturunan Nabi saw. yaitu seorang Maroko bernama Sjarif Ahmad ibn Idris (m.
1837). Setelah diterima sebagai murid waktu masih muda, dalam salah satu cabang
tarekat Syadhiliyah yang telah diperbaharui, Ahmad ibn Idris menetap di Mekkah;
bakat kerohaniannya, kecerdasan, dan kepribadiannya yang luar biasa telah
menarik kalangan penganut yang taat. Hingga sekarang masih merupakan suatu
pertanyaan apakah ia langsung dipengaruhi oleh pemberontakan Wahhabi. Jelaslah
ia seorang penganut Hambali yang menolak ijmak, di luar ijmak yang didirikan
oleh generasi pertama dari sahabat Nabi saw. dan qiyas atau "kesejalanan"
sebagai sumber hukum. Quran dan sunah yang dapat diterima sebagai sumber doktrin
dan hukum. Disamping itu, ia mengajarkan sejumlah doa yang sesuai dengan dikir
Sufi. Ia menolak doktrin Sufi persatuan dengan Tuhan, yang digantinya sebagai
tujuan hidup mistik dengan persatuan "mistik" ialah persatuan dengan roh Nabi
saw.

Tarekat Muhammadiyah dengan sekaligus memperoleh sukses yang gemilang. Disamping
tarekat asli pembangun (Idrisiyah) di Arabia sendiri (tempat keturunannya
memperoleh kuasa politik dalam propinsi Asir) sejumlah muridnya mendirikan
himpunan-himpunan lain atas dasar yang sama atau sejenis. Diantaranya yang amat
berpengaruh adalah tarekat yang didirikan oleh orang Aljazair Muhammad ibn Ali
al-Sanusi (m. 1859) di Sirenaika dan seorang Hijaz bernama Muhammad Uthman
al-Amir Ghani (m. 1853) di Afrika Timur.

Nabi yang berlainan dari dua cabang tarekat Muhammadiah memberikan gambaran
peranan yang dimainkan oleh keadaan dan kesempatan dalam pembentukan
perkembangan tarekat-tarekat tadi. Semua pergerakan pejuang pembaharuan yang
sederhana --walaupun suka damai dalam dasarnya-- lazimnya mudah menggunakan
jalan kekerasan. Dari permulaan mereka insaf akan perlawanan pembesar agama
ortodoks dan tidak mau berkompromi baik dalam usaha pertahanan maupun dalam
penyerangannya. Karena kekuatan lengan keduniawian telah dipalingkan kepadanya,
maka perlawanannya yang dipaksakan dalam saluran politik bersifat pergerakan
pemberontakan dan ditujukan untuk membangun suatu negara ketuhanan baru. Tidak
boleh dilupakan bahwa salah satu akibat penitikberatan pada Quran dan sunah
dalam keasasan Islam berarti memulihkan kembali pada jihad jalan Allah; banyak
dari keulungannya yang menjadi anggapan masyarakat yang primitif, sebagaimana
telah dijelaskan dalam Bab 4. Sedangkan dalam masyarakat yang berkembang
sepanjang sejarah pengertian jihad lambat laun melemah, dan lama-kelamaan
ditafsirkan secara baru dalam istilah kesusilaan Sufi.

Tarekat Amirghaniyah di Nubia dan Sudan yang bertengkar dengan tarekat yang
lebih ekstrim revolusioner --yang didirikan oleh al-Mahdi Muhammad Ahmad (m.
1885)-- menjadi pembela dari umat dan penaklukan pada pembesar keduniawian. Pada
lain pihak tarekat Sanusiyah dari Sirenaika yang menolak tuntutan Dinasti Osman
menjadi pengawas daerah tersebut dan membentuk lembaga yang suka berjuang yang
diperlukan bagi tugas mengislamkan dan mengawasi orang nomad di gurun pasir
Libiya. Pada tahapan kemudian, waktu mereka menghadapi perluasan kekuasaan
Kristen, orang Sunusiyah memainkan peranan sebagai pembela agama, mula-mula
terha dap perembesan orang Perancis ke daerah khatulistiwa Afrika, kemudian
sebagai sekutu Turki terhadap orang Itali di Libia dan orang Inggris di Mesir.
Meskipun telah dibinasakan dalam bidang militer oleh pemerintah militer Fasis,
tarekat Sanusiyah telah memperlihatkan daya hidupnya dengan segera munculnya
kembali pada waktu orang Itali dienyahkan dari Sirenaika.

Lama sebelum himpunan-himpunan utusan pengislaman dalam gurun pasir yang jauh
tadi melawan dengan caranya sendiri perembesan kekuasaan-kekuasaan Barat,
bersentuhan politik dan ekonomi Kekristenan Barat telah mulai menimbulkan
ketegangan baru diantara penduduk muslimin. Perluasan yang tidak kunjung henti
dari kekuatan politik Eropa di daerah Islam pertama menerbitkan perasaan
kecemasan kebatinan yang akibatnya dikuatkan masing-masing oleh kekacauan
susunan sosial dan ekonomi mereka yang lama dan pemasukan pikiran Barat.

Saluran-saluran yang membawa cita-cita Barat tidak hanya saluran kesusasteraan
dan pendidikan, akan tetapi hampir tidak ada batasnya dalam jenis dan seluk
beluknya mengenai pemerintahan, politik, susunan militer, hukum dan kehakiman,
perhubungan, kesehatan, perniagaan, industri, dan pertanian. Cepat atau lambat,
kehidupan hampir semua lapisan penduduk akan merasakan pengaruh salah satu
perkembangan tadi hingga batas tertentu. Sekolah-sekolah dan akademi-akademi
Barat yang paling langsung membawa hasilnya pada lapisan-lapisan terpelajar,
mungkin pengaruh terbesar dibawa oleh harian-harian dan majalah-majalah baru.
Mula-mulanya dengan kecil-kecilan di pusat-pusat utama dalam pertengahan abad
kesembilan belas, maka sekarang semua bagian dunia Islam memiliki sejumlah
harian sendiri, dan persuratkabaran di Mesir khusus bersinar hingga jauh di luar
perbatasannya sendiri.

Diharapkan dengan kekuatan pengaruh Barat yang menembus dan yang menyerap para
muslimin merasa harus bertindak. Mereka belum siap menjalankan usaha untuk
pengertian dan penyesuaian yang dibutuhkan untuk mempertalikan pengaruh Barat
tadi pada dasar-dasar kehidupan dan alam pikirannya sendiri. Tanpa usaha
tersebut hasilnya akan merupakan pertikaian dan kebingungan, kedua keluar dan
kedalam, serta akan bertambah membingungkan lagi karena dalam kekuatan Barat
sendiri masih terdapat cita-cita dan tujuan yang berlawanan. Untuk membedakan
akibatnya, --yang tambahan dan dangkal dari yang inti, alat dari alasan yang
palsu dari yang benar-- semua itu adalah tugas berat. Penasihat-penasihat Barat,
apabila bantuannya diminta untuk menyelamatkan tugas tersebut acap kali terbukti
kurang mahir dan merupakan penuntun yang tidak boleh dipercaya.

Pada bidang keagamaan ada dua jalan untuk melayani tantangan Barat yang muncul
dengan sendirinya. Pertama, mulai dari pokok-pokok dasar Islam dan mengeluarkan
pernyataan baru dalam suasana dan keadaan dewasa ini. Kedua, mulai dari suatu
filsafat Barat yang terpilih dan mencoba meresapkan doktrin Islam dengan
filsafat tadi. Kedua jalan telah ditempuh; dari beberapa tafsiran dan aliran
yang saling berlawanan, kami akan membicarakan yang utama saja. Cara pertama
janganlah dicampurbaurkan dengan pendirian alim ulama umumnya. Bagi alim ulama
belumlah ada persoalan untuk pernyataan baru dalam arti apa pun. Ilmu kalam,
syariat, dan amal umat ortodoks berdasarkan Quran dan sunah sebagaimana
ditafsirkan oleh sarjana-sarjana abad pertengahan --yang sebagian besar
disetujui oleh ijmak-- tetap mengikat dan tidak boleh diubah, meskipun tekanan
keadaan yang tidak tertahankan, beberapa konsesi dalam soal amal dapat diberikan
untuk sementara. Barang siapa yang ingin menyatakan baru doktrin Islam dapat
melakukan demikian karena dua alasan berlainan. Pada pihak pertama, pernyataan
baru dapat diberikan dengan tujuan menguatkan dunia Islam terhadap pelanggaran
barat, atau pada pihak lain supaya menjadi garis tunggal, tempat setiap usaha
penyesuaian dan peleburan harus dimulai. Tekanan pada pihak yang awal harus
diberikan pada aspek-aspek lahir dari praktek dan organisasi Islam, pada pihak
akhir patokan-patokan dasar pikiran Islam.

Dalam keadaan tersebut, sewajarnya bahwa jalan pertama harus mendahului jalan
kedua. Dalam seluruh umat Islam penyerbuan Barat telah menimbulkan reaksi
politik, misalnya yang memuncak hingga pemberontakan India dalam tahun 1857. Hal
ini di luar tinjauan buku ini, kecuali sampai suatu batas dimana peristiwa
menyangkut pendirian dan kedudukan agama yang tertentu. Bagi kalangan beragama;
kelemahan dalam bidang politik Islam diterangkan sebagai akibat kehilangan
kepercayaan dan kemerosotan ibadat. Oleh karena itu, pergerakan pembaharuan umum
yang pertama dalam abad kesembilan belas memiliki dua sifat. Dalam segi agama,
pergerakan menuntut pembersihan kepercayaan dari amal keagamaan, kenaikan
tingkat kecerdasan, serta perluasan dan modernisasi pendidikan. Dalam segi
politik, pergerakan bertujuan menghilangkan pelbagai sebab yang memecahbelah
muslimin dan mempersatukan mereka untuk mempertahankan iman. Pemuka pergerakan
tersebut ialah orang Afghan, Jamal al-Din (1839-1897), yang perjuangannya tidak
kunjung padam telah mengobarkan perasaan Islam di dunia Timur Islam, dan yang
telah menolong menimbulkan pemberontakan Arabi di Mesir dan revolusi Persia.
Pembangun dan yang mengilhami pergerakan Pan Islam, yang telah berjuang untuk
menyatukan semua bangsa muslimin di bawah Khalifah Dinasti Osman. Meskipun ia
gagal dalam pergerakan tersebut --tujuannya yang utama-- pengaruhnya masih hidup
terus dalam pergerakan-pergerakan populer yang baru-baru ini menggabungkan serba
asasi Islam dengan program politik yang praktis dan realistis.

Diantara murid-murid Jamal al-Din terdapat seorang yang memiliki paham
memisahkan pembaharuan politik daripada pembaharuan keagamaan dan pernyataan
baru doktrin Islam. Orang itu ialah orang Mesir Syekh Muhammad Abduh
(1849-1905), yang memiliki cita-cita luas, bebas, dan agung. Sebagai seorang
guru muda di al-Azhar beliau telah mencoba memperkenalkan tanggapan pendidikan
agama yang lebih luas dan lebih berfilsafat. Dalam pembuangan kemudian, ia
bekerja sama dengan Jamal al-Din pada majalah al-Urwa al-Wuthga yang berhaluan
setengah keagamaan dan setengah politik. Dalam tahun 1888, beliau kembali ke
Mesir, dan di sana --walaupun menemukan perlawanan kuat alim ulama yang
konservatif dan lawan-lawan politik-- dengan sifat budi pekertinya dan ajarannya
telah mempengaruhi angkatan baru yang merasa dirinya renggang dari formalisme
al-Azhar hingga batas tertentu.

Sebagaimana sarjana-sarjana besar dalam abad pertengahan Muhammad Abduh
memaparkan pikirannya dalam bentuk tafsir Quran, meskipun beliau hidup tidak
lama mengakhiri karyanya. Beliau merupakan tokoh modernis dalam pengertian bahwa
beliau menganjurkan menuntut pikiran modern, dan yakin bahwa dalam tahapan akhir
pikiran modern ini hanya dapat membenarkan kebenaran agama Islam. Berkenaan
dengan susunan kepercayaan ahli sunah waljamaah beliau bukan seorang pembaharu.
Beliau bukan sebagai al-Ghazali, seorang yang dapat menarik garis bagi suatu
bingkai sintesis yang dapat menyatukan atau menerima sekumpulan cita-cita yang
sampai suatu waktu ada di luar kepercayaan ortodoks. Bagi seorang peninjau dari
luar kadang-kadang sukar untuk memahami mengapa ajarannya pada satu pihak dapat
diterima dengan gembira dan berpengaruh besar, sedang pada pihak lain ajarannya
tadi dilawan dengan mati-matian. Keterangannya ialah karena beliau dengan
menyatakan hak menggunakan akal budi dalam pikiran agama, beliau telah
memulihkan pengelukan sedikit pada suatu sistem yang telah menjadi kaku dan
beku, serta memberikan kemungkinan untuk perumusan baru doktrin dalam
istilah-istilah modern bagi pengganti istilah-istilah abad pertengahan.

Perumusan baru demikian tidak dapat dicapai dalam satu atau dua generasi. Tidak
ada alasan untuk terperanjat bahwa hanya sedikit kemajuan keluar yang dicapai
khusus, apabila ketegangan politik menimbulkan dan melangsungkan suatu iklim
yang tidak menguntungkan bagi usaha-usaha seorang sarjana dan seorang ahli agama
yang membutuhkan ketenangan. Hasil langsung dari usaha Muhammad Abduh mendapat
pernyataan dalam dua kecenderungan yang berlainan dan saling berlawanan.

Pada suatu pihak, tumbuh dalam kalangan keduniawian "modernisme" yang tersebar,
akan tetapi tidak dirumuskan, yang dengan berpegangan pada doktrin asasi Islam
kuat dipengaruhi oleh cita-cita Barat. Dalam bentuknya yang termaju, maka
modernisme dibaurkan dengan pergerakan keduniawian yang bertujuan memisahkan
Gereja dari negara, dan menggantikan syariat dengan sistem hukum Barat.
Penggunaan paling ekstrim dari patokan-patokan keduniawian itu telah dilakukan
oleh Republik Turki sejak pembatalan Khilafah Dinasti Osman dalam tahun 1924.
Meskipun pergerakan keduniawian tadi mempunyai penyokong di lain negara-negara
Islam, jumlah terbanyak kaum modernis menunjukkan pendirian yang lebih lunak
terhadap susunan agama dan adat kebiasaannya. Bagaimanapun pandangan mereka
tentang hukum dan politik, kedudukan mereka tentang doktrin dapat diikhtisarkan
sebagai penolakan umum kekuasaan yang paling utama dari alim ulama abad
pertengahan, dan pernyataan yang lebih ragu-ragu tentang hak pertimbangan
perseorangan.

Akibat kedua ialah pembentukan suatu partai agama yang dinamakan al-Salafiyah,
penegak-penegak sunah yang telah dibuktikan oleh "leluhur yang agung",
bapak-bapak umat Islam. Kaum Salafi menyetujui kaum modernis dalam penolakan
kuasa mazhab-mazhab abad pertengahan serta menerima Quran dan sunah sebagai
satu-satunya sumber kebenaran agama. Dalam hal ini, mereka berlawanan dengan
alim ulama umumnya yang merupakan kaum reformis. Tetapi terhadap kaum modernis
dengan bersemangat mereka menolak gangguan dari liberalisme dan rasionalisme
Barat.

Pemimpin pergerakan Salafiyah itu seorang Siria, murid Muhammad Abduh, bernama
Syekh Rasjid Rida (1865-1935), penerbit sebuah tafsir Quran dan majalah haluan
reformis al-Manar, yang akhirnya penyebaran luas Maroko hingga pulau Jawa.
Dibawah pengaruhnya pergerakan mula-mula menyatakan kembali ke program Pan Islam
Jamal al-Din. Waktu pembesar-pembesar Turki meninggalkan sunah Islam, dengan
tidak tedeng aling-aling Rasjid Rida mengutuk kebijaksanaan mereka. Sebagaimana
juga halnya dengan kaum pembaharu sederhana yang lebih dahulu, ia terus menerus
didorong mundur ke serba asasi. Lama kelamaan, ia mengakui dan menumbuhkan
hubungan tujuan dan pikiran antara Salafiah dan kaum Wahhabi. Dalam kedudukannya
doktrin yang terakhir orang Salafiah dengan menolak hasrat orang Wahhabi yang
mengutamakan alirannya sendiri, menyatakan dirinya golongan "Hambali Baru"
(Neo-Hambali), kaum konservatif yang menuntut pembukaan kembali "Pintu Ijtihad"
(halaman 78) dan hak untuk mentafsirkan baru soal-soal ketuhanan dan hukum.

Mungkin pertalian kuat antara kaum Salafi dan kaum Wahhabi ialah permusuhan
mereka terhadap Sufi dalam bentuk apapun juga, terhadap pemujaan wali-wali,
bid'ah-bid'ah berdasarkan animisme yang menyeleweng dari paham keesaan Tuhan
yang murni dari Quran. Sebagian karena pendirian itulah "modernisme al-Manar"
telah menjadi suatu kekuatan seluruh negara Islam, dimana para pembaharu
menghadapi perlawanan kepentingan yang telah bercokol dari pemujaan para wali
dan tarekat-tarekat. Dengan meninggalkan pendirian di tengah jalan dari alim
ulama resmi, modernisme al-Manar dengan melintangi perbatasan bangsa dan negara
mendirikan persaudaraan baru golongan-golongan yang bersemangat telah berbulat
tekad memerangi kemerosotan kedalam dan pemecahan keluar umat Islam. Meskipun
tidak terbatas pada suatu lapisan kebudayaan golongan ekonomi atau sosial,
pergerakan tadi hanya menarik sedikit penganut diantara para cerdik pandal, dan
sebaliknya mencurigai mereka tentang kelalaian mereka yang tidak patut dalam
soal iman dan ibadat.

Sejajar dengan pergerakan Salafiah tadi, atas dasar doktrin yang sedikit kurang
nyata, perkembangan umat Islam dalam dasawarsa-dasawarsa terakhir yang paling
menarik perhatian adalah munculnya perhimpunan-perhimpunan agama baru.
Perhimpunan-perhimpunan itu seakan-akan merupakan pernyataan baru dari pikiran
Islam dan pernyataan baru dari nurani Islam menghadapi gangguan Barat, yang
disesuaikan dengan berjenis-jenis lingkungan sosial dan pendidikan. Misalnya, di
Mesir dan di negeri-negeri Arab, Persatuan Pemuda Islam melayani jenis golongan
yang sama, dan dengan cara-cara sama sebagai Y.M.C.A. (Persatuan Pemuda Pria
Kristen), sedang Persaudaraan Muslimin bekerja pada tingkat yang lebih populer.
Di Pakistan dan Indonesia, terdapat juga persatuan-persatuan yang sama, tetapi
bebas dan merdeka.

Pertama-tama, bertujuan untuk menghidupkan kembali dan memberikan semangat baru
pada kepercayaan agama dan ibadat yang mungkin akan tergenang dalam pasang
surutnya penghidupan modern, himpunan-himpunan baru tersebut condong memilih,
hampir karena keharusan pendirian politik buat mempertahankan warisan Islam.
Oleh karena itu, mereka merupakan bagian diantara penduduk kota dari
negara-negara yang teratur, penyelarasan abad kedua puluh dari
pergerakan-pergerakan abad kesembilan belas diantara suku-suku; pada waktu yang
sama menggantikan tarekat Sufi yang lama, dan pengaruhnya dalam kota-kota
berkurang dengan pecahnya serikat pertukangan. Dengan memeluk segala tahapan
doktrin dari serba azasi hingga keortodoksan liberal, mereka menemukan suatu
titik persamaan untuk mengumpulkan tenaga dalam penghormatan terhadap diri Nabi
saw., yang boleh dikatakan memberi dorongan gerakan hati dan akhlak dalam Islam
modern.

Tipe kedua dari reaksi terhadap pertemuan dengan Barat telah dinyatakan khusus
di India. Di belakangnya terletak pengaruh pergerakan pembaharuan ortodoks yang
telah memelopori jalan dengan memusnahkan kekuasaan mazhab-mazhab abad
pertengahan. Pergerakan itu mulai dalam dasawarsa-dasawarsa yang pertama dari
abad kesembilan belas dengan mengajarkan kesederhanaaan ajaran Wahhabi dan
pemberontakan menentang pemujaan wali-wali oleh pemimpin-pemimpin sebagai
Syariat Allah dan Sayid Ahmad dari Rai Bareli (terbunuh dalam pertempuran
melawan orang Sikh tahun 1831), kemudian banyak memperoleh penganut diantara
muslimin India. Pelbagai perhimpunan dengan terang-terangan telah memperjuangkan
patokan-patokannya, khusus aliran Fara'idi di Bengal yang amat fanatik (yang
juga disebut Salafia), dan jamaah-jamaah yang tidak ternilai banyaknya yang
menamakan dirinya Ahli-i-Hadith, "Penganut-penganut Sunah Nabi saw" yang
memeliharakan mesjid dan madrasahnya sendiri-sendiri. Dalam masyarakat yang
lebih besar, perjuangan mereka untuk membersihkan doktrin dan amal telah
disambut dengan baik.

Dengan jalan tersebut, maka pintu telah terbuka untuk usaha-usaha perseorangan
yang lebih berpribadi untuk merumuskan doktrin Islam dalam istilah yang modern.
Usaha pertama telah dilakukan oleh Sir Sayid Ahmad Chan (1818-1898). Seperti
Syekh Muhammad Abduh, bahwa Islam dan ilmu pengetahuan tidak mungkin terus
menerus saling berlawanan, beliau telah maju lagi selangkah dengan menyatakan
bahwa pembenaran yang nyata dari Islam adalah persesuaiannya dengan alam semesta
dan hukum-hukum ilmu pengetahuan, dan tidak sesuatu pun melawan dasar ini dapat
dipandang Islam asli dan sah. Untuk menggiatkan dan mengembangkan garis pikiran
ini, beliau mendirikan sebuah perguruan tinggi di Aligarh tahun 1875, dimana
pendidikan agama harus digabungkan dengan pelajaran ilmu hukum modern. Dengan
demikian, beliau telah membina organisasi modernis pertama. Perguruan tinggi
baru tadi dan pendirinya menjadi sasaran penyerangan hebat, tidak hanya dari
pihak alim ulama ortodoks, akan tetapi dari Jamal al-Din al-Afghani yang
menyerang dengan sengitnya filsafat necari sebagai materialisme murni dan
pengkhianatan terhadap iman. Meskipun demikian, pergerakan Aligarh berkembang;
walaupun perguruan tingginya sendiri (dalam tahun 1920 menjadi Universitas Islam
Aligarh) lambat laun meninggalkan kedudukan itikadnya yang asli.

Ilmu ketuhanan liberal yang menyusul usaha Sir Sayid Ahmad Chan mendekati Islam
dengan jalan rasionalisme, mendatangkan penilaian baru tentang kesusilaan sosial
yang telah menjadi adat umat Islam. Kemungkinan yang akhir ini merupakan salah
satu daya tarik terbesar bagi golongan cendekiawan yang bertambah besar dengan
tegas melihat keburukan sosial, yang terikat dengan keadaan sebagai perhambaan,
poligami, dan perceraian yang tidak teratur. Dalam hal itu, pengaruh perguruan
tinggi jauh melintasi perbatasan Islam India dengan pernyataannya yang baru
tentang amal Islam dan doktrin sosial, sebagian dalam bentuk pembelaan dan
sebagian reformis.

Diantara pelbagai penulis India yang mempopulerkan ilmu ketuhanan liberal dan
peradaban baru tokoh yang terkemuka adalah Sayid Amir Ali, seorang Syi'ah dan
seorang ahli hukum ternama, Bukunya The Spirit of Islam (Roh Islam) untuk
pertama kali diterbitkan dalam tahun 1841 telah menyumbangkan kepada kesadaran
politik --yang bangkit diantara kaum muslimin -- dasar penghargaan diri yang
masuk akal dalam menghadapi dunia Barat. Demikian cepat gagasannya cocok dengan
keadaan hati kawan seangkatannya hingga hanya sedikit saja diantara para
terpelajar muslimin memperhatikan bahwa Amir Ali telah merumuskan doktrin Islam
dalam istilah pikiran Barat, sebagaimana telah dilakukan sebelumnya oleh kaum
nechari. Bukanlah tempatnya di sini untuk menyelidiki kedudukan-kedudukannya
secara terperinci, tetapi tiga diantaranya harus dibentangkan karena telah
menjadi unsur pokok pikiran Islam yang modern.

Pertama, pemusatan yang telah kita lihat dalam pergerakan-pergerakan modern yang
lain atas diri Muhammad saw. judul asli Roh Islam (The Spirit of Islam) adalah
"Riwayat hidup dan ajaran Muhammad saw." (The Life and Teachings of Muhammad)
cukup untuk menunjukkan tempat pusat gagasan tersebut dalam penjelasannya.
Berlawanan dengan doktrin Sufi tentang Muhammad saw. penjelasannya tidak memuat
sindiran sedikit pun tentang kekeramatan; Muhammad saw. digambarkan sebagai
penjelmaan dan contoh kebajikan manusia dalam penjelmaannya yang paling agung.
Amir Ali sendiri membawa liberalismenya hingga titik pandang Quran sebagai karya
Muhammad saw. Dalam hal itu, ia tidak diikuti oleh kaum modernis umumnya yang
tetap mempertahankan doktrin ortodoks bahwa Quran sekata demi sekata adalah
kalam Allah asli.

Kedua, ajaran Muhammad saw. dihidangkan dalam istilah cita-cita sosial zaman
sekarang. Empat kewajiban (salat, puasa, zakat, haji) dianjurkan --tidak
seakan-akan dibela-- atas dasar yang masuk akal berhubungan dengan faedah sosial
dan badaniah. Adanya perhambaan, poligami, talak, dan lain-lain kelemahan moral
dan sosial dalam masyarakat Islam diakui, akan tetapi diterangkan sebagai
berlawanan dengan ajaran Quran yang benar dan tanggung jawab bagi aturan-aturan
tadi diletakkan di pundak ulama-ulama dan ahli fiqih yang kemudian. Perhambaan
adalah bertentangan dengan ajaran Quran tentang persamaan segala Bani Adam;
poligami terlarang dengan syarat-syaratnya dalam Quran; perceraian harus
seluruhnya ditolak dengan semangat ajaran dan contoh Muhammad saw. Dalam
tahun-tahun belakangan ini, banyak negara-negara Islam telah mengadakan
perundang-undangan sipil untuk menyempitkan hukum perkawinan dan perceraian,
sebagaimana juga dalam bidang lain dari syariat yang dijalankan dalam mahkamah
Islam, walaupun hanya negara Turki yang menggantikan hukum agama ini dengan
perundang-undangan Barat murni. Perhambaan telah dibatalkan dengan undang-undang
di seluruh negara Islam kecuali Arabia, dalam pertengahan kedua abad kesembilan
belas.

Ketiga, tekanan yang jatuh atas Islam, sebagai kekuatan peradaban yang
progressif, kejayaan Baghdad dan Kordoba, keuntungan pelajaran dan ilmu
pengetahuan, kelelaan keagamaan dan penerimaan filsafat Yunani, pembinaan rumah
sakit-rumah sakit, dan wakaf-wakaf perguruan, semua itu dibandingkan dengan
keadaan di Eropa waktu abad pertengahan. Bahkan muslimin terpelajar yakin bahwa
kebangkitan baru dalam ilmu pengetahuan dan Renaissance di Eropa telah terjadi
berkat dorongan dari kebudayaan Islam, dan karena penggunaan kepandaian
kecerdasan dan teknik Islam oleh sarjana dan para tukang Eropa.

Disamping pemakaian guna pembelaan dan perlawanan alasan tadi menyangga pula dua
kedudukan modernis. Sudah digunakan oleh Syekh Muhammad Abduh bahwa Islam
apabila diterima dan dijalankan dengan benar, menolak tiap-tiap bentuk campuran
agama dan mengharuskan penganutnya untuk menuntut segala bidang pelajaran dan
ilmu pengetahuan dengan kegiatan sebesar mungkin. Inilah tangkisan terhadap
kemunduran pelajaran keduniawian dalam abad pertengahan dan pemusatan pelajaran
ilmu ketuhanan dan kesusasteraan di madrasah-madrasah. Pengesahan bagi doktrin
tersebut didapati dalam dalil-dalil Quran yang berjumlah besar terutama tujuan
dan desakan untuk mempelajari ayat Quran Allah dalam alam semesta dan dalam
beberapa ucapan-ucapan terkenal yang berasal dari Nabi Muhammad saw., misalnya;
"Carilah pengetahuan bahkan hingga di Tiongkok!" dan "Tinta sarjana adalah lebih
suci daripada darah seorang syahid."

Kedudukan lain ialah para muslimin dalam mengambil alih pelajaran dan ilmu
pengetahuan Barat modern hanya melanjutkan warisan peradabannya sendiri. Alasan
ini paling meyakinkan diajukan oleh Sir Muhammad Iqbal (1876-1938), tokoh
perumusan hari modern doktrin Islam. Lain dari kaum modern yang terdahulu, maka
dasar-dasar Islam ilmu ketuhanan Iqbal diambil dari filsafat Sufi yang
ditafsirkannya dalam istilah-istilah superman Nietzhe dan teori Bergson tentang
evolusi kreatif. Filsafat aktivitasnya sendiri yang dinyatakannya dalam
serangkaian syair Persia dan Urdu menarik perhatian besar dari angkatan muda
muslimin India dan menyumbang timbulnya Pakistan sebagai suatu negara Islam
merdeka dalam tahun 1947. Ajarannya diberi bentuk sistem dalam serangkaian
kuliah dalam bahasa Inggris dalam tahun 1928 di bawah judul Pengubahan Baru
Pikiran Agama dalam Islam (The Reconstruction of Religious Thought in Islam)
akan tetapi hingga sekarang masih diragu-ragukan sampai mana ia menemukan
penganut di luar Pakistan dan India.

Suatu kemajuan lain dalam masyarakat Islam selama abad kesembilan belas harus
dicatat. Kemajuan itu ialah kedatangan kembali aliran kecondongan untuk
membentuk aliran-aliran sinkretis baru; dalam abad-abad terdahulu telah menjelma
dalam munculnya kaum Nusairi, kaum Druz, Jazadi, sejumlah aliran Syi'ah, dan
akhir-akhir ini pergerakan Bektasyi dan Sikh. Oleh karena itu, tidak ada alasan
mencari-cari pengaruh Barat guna menerangkan kemunculannya. Aliran baru yang
pertama terbit dari ajaran filsafat Syekh dalam Syiah Persia dan dipimpin oleh
Sayid Ali Muhammad dari Syiraz. Ia menamakan dirinya dengan lambang tua. Bab
pintu gerbang, tempat kebenaran Ilahi telah disiarkan. Ia mengajarkan suatu
campuran doktrin agama yang liberal dengan unsur-unsur kebatinan, dan setelah
penganut-penganutnya memberontak, dihukum mati dalam tahun 1850.

Aliran Babi pecah menjadi dua setelah ia wafat. Sebagian besar menganut muridnya
Baha'ullah (1817-1892), yang mengembangkan doktrin asli menjadi suatu agama
universal perdamaian dan kemanusiaan yang dinamakan aliran Baha. Agama baru tadi
yang sekarang di luar batas Islam telah mendapat dukungan di Persia dan Amerika
Serikat; markas besarnya ialah di Haifah, Palestina.

Pergerakan sinkretis lain yang penting terbit di India sebagai reaksi terhadap
pergerakan Aligarh. Pemimpinnya Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian (m. 1908),
menuntut menjadi pembawa wahyu untuk mentafsirkan Islam bagi keperluan zaman
baru. Selain itu ajarannya tentang perdamaian, itikadnya hanya berbeda sedikit
dari doktrin pembaharu ortodoks yang lunak, yang menolak pemujaan wali-wali.
Mirza Ghulam Ahmad beserta organisasinya menjadi kuat dengan pesat diserang oleh
kaum ortodoks, terutama karena tuduhan mementingkan diri sendiri dan dicap
sebagai penyeleweng.

Setelah meninggalnya Khalifah atau penggantinya yang pertama dalam tahun 1914
Ahmadijah terpecah menjadi dua. Cabang asli atau cabang Qadiani tetap
mempertahankan tuntutan pendirinya ialah seorang nabi dan tetap mengakui seorang
khalifah; yang memisahkan diri atau partai Lahore menolak kedua tuntutan itu dan
membentuk suatu lembaga untuk mempropagandakan Islam di bawah seorang kepala
baru. Cabang Lahore akhirnya berusaha untuk didamaikan lagi dengan ahli sunah
waljamaah, meskipun para alim ulama masih memandangnya dengan kecurigaan.

Kedua cabang menarik perhatian dengan kegiatannya dalam penyiaran Islam, tidak
hanya di India, akan tetapi juga di Inggris dan Amerika. Khusus partai Qadiani
ialah lawan yang giat bagi penyiaran agama Kristen di Indonesia, Afrika Selatan,
Timur, dan Barat. Jumlah penganutnya tidak dapat ditaksir dengan kepastian, akan
tetapi di India sendiri jumlahnya sedikit tidak berarti apabila dibandingkan
dengan banyaknya umat Islam di sana.

Pembahasan tentang perkembangan Islam --meskipun pendek-- di hari belakangan ini
telah dapat menunjukkan kekuatan-kekuatan yang telah memberikan bentuk pada
pendirian agama para muslimin dalam waktu lampau tidak kehilangan tenaga sedikit
pun. Sebagaimana juga dalam masyarakat keagamaan bersejarah yang lain-lain dua
kecondongan yang saling berlawanan, akan tetapi saling melengkapi, senantiasa
bekerja. Reaksi para kesederhanaan merupakan usaha untuk mempertahankan warisan
dan sunah jamaah serta masyarakat Madinah, begitu pula perjuangan yang tidak ada
hentinya terhadap "bid'ah-bid'ah" yang membahayakan kemurnian doktrin dan amal
primitif. Kecenderungan cara Katholik menerima berjenis-jenis pendapat dan adat
kebiasaan dalam soal yang kurang penting dan terang-terangan menerima keharusan
tafsiran baru untuk menghadapi kebutuhan baru dan yang dirasakan perlu.

Beberapa kali pemimpin agama Islam, waktu dihadapkan dengan tuntutan mendesak
akan cara-cara berfikir baru, telah berusaha memberikan keterangan baru dalam
istilahnya patokan-patokan abadi dari tafsiran Quran tentang alam semesta.
Dengan tidak dilebih-lebihkan kami boleh menyebutkan paham Stoa Islam, paham
Aristoteles Islam, Panteisme Islam semuanya didalam empat penjuru masyarakat
ortodoks. Reaksi paham kesederhanaan dan kemurnian tidak pernah dapat
membalikkan kecenderungan ini dan memulihkan perumusan dan penyerapan primitif.
Reaksi tersebut mungkin dan dapat merusakkan kompromi semangat Katholik, apabila
kompromi tadi dirasakan jauh hingga tidak sesuai dengan pengalaman agama Islam
yang asasi. Dari sejarahnya yang lama dalam Islam sendiri, Islam telah
memperoleh baik kemampuan menyesuaikan diri maupun keuletan yang dibutuhkan
untuk menghadapi tantangan pikiran filsafat modern, walaupun kata-kata
jawabannya masih harus dirumuskan.

Bahaya yang mengelilingi Islam sebagai agama sekarang barangkali lebih besar
daripada bahaya yang dihadapi di masa lampau. Paling nyata ialah bahaya yang
datang dari kekuatan-kekuatan yang telah meruntuhkan dan mengancam untuk
meruntuhkan semua agama ketuhanan. Dorongan dari luar, dari keduniawian, dalam
bentuk pembujukan nasionalisme maupun dalam doktrin materialisme ilmiah dan
tafsiran ekonomi sejarah telah meninggalkan bekas-bekas pada beberapa bagian
masyarakat Islam. Betapa pun pengaruhnya berakal busuk, mungkin lama kelamaan
kurang berbahaya daripada berkurangnya kewaspadaan suara hati keagamaan dan
kelemahan sunah Katholik Islam.

Kedua-duanya condong dipercepat oleh pemecahan gabungan antara tarekat-tarekat
agama, lapisan pertengahan, dan lapisan atas masyarakat Islam. Tempat mereka
tidak dapat diisi oleh para alim ulama dan susunan resmi karena alim ulama tidak
pernah berusaha atau menunaikan pimpinan dan bimbingan kerohanian para mukminin
perseorangan yang menjadi sebagian tugas kependetaan Kristen. Setelah suatu sela
yang agak lama, lembaga-lembaga baru telah mulai melengkapi kebutuhan yang
dahulu dicukupi oleh tarekat-tarekat Sufi, akan tetapi dalam bidang terbatas
sekali dan dengan perbedaan tekanan. Usaha yang teratur diperlukan untuk
menghadapi kedua tantangan dari dunia luar dan kerusakan keduniawian di dalam.
Kelemahan golongan-golongan yang teratur ialah kecenderungannya untuk
menitikberatkan persatuannya lebih dari keoknuman dan menilai persatuan sosial
lebih tinggi daripada kebaktian perseorangan. Dengan mengadakan persatuan lahir
mereka mungkin tidak hanya gagal untuk membangkitkan kembali ketegangan
kerohanian yang melembek, akan tetapi mungkin menggantikannya dengan persamaan
emosi dengan golongan tersebut. Oleh karena itu, lembaga-lembaga baru condong
menjadi klik-klik. Sejauh simpati mereka, "modernis" atau barang siapa yang juga
memiliki penyerapan mereka terbatas pada "fundamentalis", "aktivis" atau
"pasifis" sebagaimana halnya terjadi, mereka makin melemahkan perasaan dan
tujuan moral masyarakat dalam dunia Islam umumnya.

Akibat-akibat keadaan tadi mengenai umat sebagai kesatuan para alim ulama
diletakkan tanggung jawab istimewa. Tugas bersejarah mereka ialah untuk
mengimbangkan antara dua barang ekstrim, untuk mempertahankan keseimbangan dan
sifat Katholik "Gereja" Islam, mengatur dan mewakili suara hati agama umat
umumnya. Ketidaksabaran golongan yang berlagak pembaharu dengan "obskurantisme"
(perbauran) daripada alim ulama mudah dipahami; sunah merupakan beban berat
baginya, sebagaimana juga bagi segala pembela yang yakin dari lembaga-lembaga
yang akar-akarnya telah mendalam sejak beberapa abad dan bersembunyi di bawah
permukaan kehidupan. Sukar untuk mungkir bahwa jumlah terbanyak para alim ulama
memiliki kesempitan pandangan, suatu ketidakmampuan bahkan keseganan untuk
menginsyafi tuntutan-tuntutan penghidupan baru di sekitar mereka dan menghadapi
soal-soal penting yang sedang menentang umat Islam.

Meskipun dengan segala kesalahan yang dituduhkan kepada mereka dengan kurang
atau lebih kebenaran, mereka sebagai suatu badan tidak pernah gagal melayani
kepentingan agama yang utama dari umat Islam. Dengan ketekunan mereka yang
diilhami oleh keyakinan mereka dan dikuatkan oleh perasaan persatuan mereka yang
teguh, ketiadaan suatu susunan martabat memberikan cukup gaya pegas untuk
mencegah ketekunan tadi berubah menjadi penghalang biasa. Apabila mereka lambat
mengikuti cara-cara yang berubah dalam pikiran dan mencari kepentingan langsung
dari lapisan-lapisan yang berkuasa karena perjuangannya yang lama terhadap
gubernur-gubernur keduniawian dan filsafat keduniawian --mereka telah banyak
berusaha bagi pembelaan kebebasan agama dan perseorangan.

Perluasan modern negara telah mengurangi, khusus dalam bidang pendidikan
lapangan kegiatan-kegiatan yang dahulu diawasi oleh para alim ulama, hanya di
Turkilah pertikaian didorong hingga tahapan yang ekstrim. Dalam suatu hal, alim
ulama tidak mau berkompromi. Islam, sebagai suatu jalan hidup tegak atau jatuh
dengan kekuasaan syariat. Semua percobaan untuk menurunkan syariat dari
takhtanya untuk melemahkan kuasanya, untuk mengundurkan Islam sehingga satu
badan kepercayaan swasta, tanpa hasil praktis dalam hubungan sosial, selalu
telah menimbulkan dan selalu akan menimbulkan perlawanan terbuka dari pihak
mereka.

Disitulah letaknya titik krisis. Bagi kaum pembaharu yang bersemangat,
kelambatan proses persesuaian yang diperlukan untuk menyelamatkan persatuan
masyarakat tidak dapat dibiarkan begitu saja, dan mereka dengan tidak sabar
mengharapkan negara mempercepat proses tersebut. Akibat usaha demikian akan
melemparkan para alim ulama sebagai suatu badan kedalam ketiadaan dan
"fundamentalisme," dan hasilnya terakhir ialah pemecahan. Kami patut menghormati
para pelopor yang telah merintis jalan-jalan baru jauh di depan badan utama;
tetapi yang menciptakan dan memelihara peradaban adalah mereka yang kemudian
menyusul untuk membangun perdamaian, ketertiban, dan keadilan, serta yang
memperkaya semangat manusia dengan mempersatukan kegiatan dan sumber-sumber
dunia baru dengan harta yang hidup dari dunia yang lama. Kecuali jika para alim
ulama tetap setia pada jabatannya memelihara keseimbangan dan dapat memuaskan
hati nurani akhlak kaum muslimin yang paling terpelajar. Pada waktu yang sama
--sepanjang semua perubahan-perubahan yang perlu-- dapat menyelamatkan intisari
kepercayaan dan kesusilaan Islam, mereka tidak akan dapat menyelamatkan warisan
agama Islam daripada unggisan asam-asam yang merusakkan zaman kita.

6.perubahan diri sendiri menjadi pribadi da'iyah yang baik

Dalam rangka menyelamatkan umat ini tentunya kita tidak berhenti pada kerja
tajdid dan penyebaran fikrah saja, namun harus dibarengi dengan upaya menjadikan
fikrah ini menjadi nyata terpraktekkan dalam kehidupan umat sehari-hari. Untuk
itu kita harus melakukan perubahan setahap demi setahap mengantarkan umat ini
dengan tarbiyatul ummah sampai tingkat kesempurnaanya. Dan untuk itu kita
percaya ada tahapan yang tidak bisa kita langgar yaitu:

Kita harus memulai dengan merubah diri sendiri menjadi pribadi da'iyah yang
baik.

Langkah pertama: adanya pribadi yang shaleh secara utuh.
Langkah kedua: keluarga muslim dalam seluruh aspeknya.
Langkah ketiga: bangsa yang muslim dengan segala ciri khasnya.
Langkah keempat: pemerintahan muslim dengan segala keunikannya.
Langkah kelima: bergabungnya seluruh tanah air Islam yang sudah dicabik-cabik
penjajah ke dalam satu kesatuan pemerintahan Islam.
Langkah keenam: berkibarnya bendera Islam di tatanan dunia internasional.
Langkah ketujuh: penegasan sekali lagi bahwa Islam menawarkan da'wahnya ke
seluruh manusia sebagai pengendali peradaban dunia (ustadziatul alam).

7. Sepuluh Risalah Pemuda
1. Memahami Islam
Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam
(35:28, 58:11)
" Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikanlah dalam
agama." (H.R. Bukhari-Muslim)
"Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrulloh dan yang
serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu." (H.R. At Tirmizi)
2. Mengimani segenap ajaran Islam
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental
patuh dan tunduk (23:51). Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya (2:165) dan
ittiba' (mengikuti) rasul-Nya (3:31, 53:3-4).
3. Mengamalkan dan mendakwahkan Islam
Ciri orang yang tidak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa
mengamalkan dan mendakwahkan Islam (103:1-3, 41:33, 3:110, 9:71, 5:78-79).
"barang siapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan
dengan orang yang mengerjakannya." (H.R. Muslim)
4. Berjihad dijalan Islam
Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin. Said
Hawa membagi jihad menjadi lima macam :
a. Jihad Lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik
dan fasiq yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi
SAW. (5:62)
b. Jihad Maali atau jihad dengan harta (49:15, 9:111). Jihad dengan harta
merupakan bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana
dan prasarana.
c. Jihad Bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan/kekuatan dan jiwa (22:39,
2:190, 8:39, 9:36). Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir,
berusaha mengusir mereka dari bumi Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri
Islam, melawan pemberontakan atau pembangkangan atas negara Islam.
d. Jihad Siyaasi atau jihad politik.
e. Jihad Tarbawi/ta'limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan
ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam (3:79)
5. Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam (21:83-85, 38:41-44, 37:100-107,
21:68-69, 71:5-9)
Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqamah. "Keyakinan dalam iman
haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman." (H.R. Abu Nu'aim)
6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam
Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah islamiyah sesama muslim (8:63,
59:9). "Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan,
antara satu dengan yang lainnya saling mengokohkan," (Al hadist)
7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam
Potensi umat Islam perlu diarahkan ke dalam amal jama'i secara efektif dan
efisien (3:146)
8. Optimis terhadap masa depan Islam
Pemuda Islam tak boleh memiliki jiwa pesimis. Sebaliknya, harus optimis akan
hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT. Hanya orang
kafirlah yang memiliki sifat pesimis (12:87, 15:56).
9. Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktivitas yang telah dilakukan
Introspeksi dan evaluasi dimaksudkan agar pemuda tidak mengulang kesalahan yang
sama di hari mendatang, tidak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu
memperbaiki diri ke arah yang lebih baik (13:11).
"Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan
amal sebagai bekal untuk mati." (H.R. At Tirmizi)
10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam
Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah, dan jihad merupakan masalah
fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.
"Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di
antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka," (H.R. An Nasai
dari Sa'ad bin Abi Waqash



BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

Dari uraian yang telah disampaikan sebelumnya dapat kita ketahui bahwa Islam
akan kembali bangkit karena faktor kepemimpinan dan berbagai factor antara lain
:

1. Negara-negara Islam banyak yang menyadari akan pentingnya persatuan Islam
2. Banyak kekayaan alam di negara-negara Islam
3. Suburnya SDM di masyarakat Muslim. Sedangkan barat mulai mengalami penurunan.
Pakar yang lain, menyampaikan bahwa barat akan menemui kemunduran (declining),
baik secara fisik maupun kultural. Saat ini, barat mengalami jumlah kematian
yang sangat signifikan, dan kelahiran yang sedikit, banyak keluarga yang tidak
memiliki anak.

0 komentar:

Poskan Komentar